Bioavtur
Sorotan terbaru dari Tag # Bioavtur
Bioavtur Solusi Tekan Impor dan Jawab Tantangan Lingkungan
alaminya (PASPI, 2023). Sektor energi berbasis fosil merupakan kontributor utama emisi GRK global. Di antara sektor itu, transportasi udara sebagai pengguna bahan bakar fosil (avtur) turut memberikan kontribusi sebesar 2,3 persen terhadap total emisi GRK global pada tahun 2020 lalu. International Civil Aviation Organization atau ICAO sebagai otoritas global di bidang penerbangan berkomitmen untuk berkontribusi dalam penurunan emisi gas rumah kaca atau GRK guna mewujudkan target net zero emission atau NZE global pada 2050 mendatang. Komitmen tersebut diwujudkan melalui pembentukan Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA). Salah satu program utama dalam skenario CORSIA untuk mewujudkan penurunan emisi karbon di sektor penerbangan internasional adalah melalui penerapan SAF atau bioavtur sebagai substitusi avtur fosil yang memiliki intensitas emisi tinggi.
Pertamina Sukses Produksi Bioavtur Bahan Baku Minyak Sawit
Jakarta, katakabar.com - PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Subholding Refining & Petrochemical Pertamina sukses produksi Bahan Bakar Minyak (BBM) 'hijau' dari bahan baku minyak sawit atau Crude Palm Oil (CPO). Kesuksesan produksi BBM jenis Avtur dan Solar bahan baku minyak sawit sebagai wujud dan bentuk komitmen Pertamina menyediakan BBM ramah lingkungan buat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Direktur Utama Kilang Pertamina Internasional, Taufik Aditiyawarman menyatakan, kita sudah berhasil produksi bahan bakar pesawat jenis Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur. Produksi dilakukan di Green Refinery Kilang Cilacap, ujar Taufik, dengan campuran CPO sebesar 2,4 persen berkapasitas 9.000 barel per hari (bph). Di mana bahan bakunya adalah produk turunan dari sawit, Refined Bleach Deodorized Palm Kernel Oil (RBDPKO). “Alhamdulillah, lewat uji coba komersial bioavtur 2,4 persen, dengan pesawat Boeing 737-800NG milik maskapai Garuda Indonesia dan sebelumnya dengan CN235 telah membuktikan, kita sudah mampu untuk memproduksikan bioavtur 2,4 persen,” terang Taufik Aditiyawarman, saat acara Energy Corner, dilansir dari laman CNBC Indonesia, pada Selasa (2/1). Permintaan penggunaan bioavtur, harap Taufik, untuk bahan bakar pesawat ke depan dapat lebih masif lagi. Sehingga produksi bioavtur yang mengandung 2,4 persen minyak inti sawit berkapasitas 9.000 bph tersebut dapat terus terjaga. Ke depan, tutur Taufik lagi, harapan kami adalah sejak uji coba ini, komersialisasinya langkah berikutnya melalui usaha Pertamina, rekan kami di Patra Niaga, bagaimana memasarkan produk ataupun potensi produk SAF 2,4 persen ini lebih luas. Kalau bisa tidak hanya ke domestik, tapi nanti orientasi ekspor. "Kita menargetkan bisa memproduksi bioavtur, dengan campuran minyak sawit hingga 100 persen di beberapa tahun mendatang," jelasnya. Menurutnya, saat ini perusahaan tengah menyelesaikan pembangunan kilang hijau atau Green Refinery Cilacap Fase 2 berkapasitas 6.000 barel per hari (bph). “Tapi, ini SAF 100 persen bukan 2,4 persen lagi, untuk memenuhi kebutuhan nantinya bisa jadi pemerintah bakal memandatkan penggunaan SAF pada 2030 diangka 5 persen untuk semua airlines. Kita sudah siap dan mungkin nanti remaining produksinya bisa ekspor,” bebernya. PT KPI, sebutnya, bakal mampu menghasilkan produksi bioavtur sekitar 1,4 juta liter atau 1.400 kilo liter (kl) per hari, Dengan kapasitas produksi bioavtur 2,4 persen sebesar 9.000 bph saat ini.
Perdana, RI Lakukan Penerbangan Komersial Gunakan Bahan Bakar Jet Campuran Bioavtur
Jakarta, katakabar.com - Republik Indonesia melakukan penerbangan komersial perdana menggunakan bahan bakar jet yang dicampur dengan minyak kelapa sawit (bioavtur), pada Jumat (27/10) kemarin Penerbangan ini bagian dari upaya Indonesia, sebagai produsen sawit terbesar di dunia, dalam mendorong penggunaan bahan bakar nabati atau biofuel secara lebih luas untuk mengurangi impor bahan bakar. CEO Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, dilansir dari laman Voa Indonesia, pada Sabtu (28/10) mengatakan, maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia yang mengoperasikan pesawat Boeing 737-800NG membawa lebih dari 100 penumpang dari Jakarta ke Solo yang berjarak sekitar 550 kilometer. “Kami bakal berdiskusi lebih lanjut dengan Pertamina, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dan pihak lain untuk memastikan bahan bakar ini layak secara komersial,” ujar Irfan dalam upacara seraya menambahkan pesawat tersebut rencananya bakal kembali ke Jakarta pada Jumat (27/10) malam. Garuda melakukan beberapa tes, termasuk uji penerbangan bahan bakar baru tersebut awal bulan ini dan uji darat mesin pada Agustus. Bahan bakar jet campuran minyak sawit ini diproduksi oleh Pertamina di kilang Cilacap, menggunakan teknologi hydroprocessed esters and fatty acid (HEFA) dan terbuat dari minyak inti sawit yang telah dimurnikan dan dihilangkan baunya. Pertamina menjelaskan, bahan bakar berbahan dasar kelapa sawit mengeluarkan lebih sedikit gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan atmosfer dibandingkan dengan bahan bakar fosil, dan negara-negara produsen minyak kelapa sawit telah menyerukan agar minyak nabati itu dimasukkan dalam bahan baku produksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF). “Pada tahun 2021 lalau, Pertamina berhasil memproduksi SAF jenis 2.0 di unit Cilacap dengan menggunakan teknologi co-processing dan terbuat dari minyak inti sawit olahan yang telah dimurnikan dan dhilangkan baunya dengan kapasitas produksi 1.350 kiloliter per hari,” cerita Alfian Nasution. Direktur Panas Bumi di Kementerian ESDM, Harris Yahya menimpali, penggunaan biofuel bakal menurunkan efek rumah kaca. Industri penerbangan, sebagai penghasil emisi gas rumah kaca terbesar, sedang mencari cara untuk mengurangi jejak karbonnya dengan menggunakan bahan bakar alternatif. Para ahli menuturkan industri ini membutuhkan 450 miliar liter SAF per tahun pada 2050, jika bahan bakar tersebut ingin dianggap berkontribusi sekitar 65 persen dalam upaya mitigasi mencapai target net-zero. Tapi, beberapa negara telah menyampaikan kekhawatirannya mengenai potensi deforestasi dalam produksi minyak sawit dari perkebunan. Uni Eropa telah memberlakukan pembatasan impor terhadap komoditas tersebut. Di tahun yang sama, Indonesia melakukan uji terbang dengan bahan bakar yang sama pada pesawat buatan Dirgantara Indonesia. Pesawat itu terbang dari kota Bandung, Jawa Barat, menuju ibu kota Jakarta. Indonesia telah memerintahkan pencampuran biofuel sebesar tiga persen pada bahan bakar jet selambatnya pada 2020 lalu, tapi implementasinya tertunda.
Pertamina Produksi Bioavtur dari Minyak Sawit Buat Pesawat Komersil
Jakarta, katakabar.com - Di pekan pertama Oktober 2023 lalu, Bioavtur-SAF berhasil diuji coba pada pesawat komersil milik maskapai Garuda Indonesia penerbangan dari Soekarno Hatta International Airport, Tangerang, Banten, ke kawasan Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Pertamina lewat anak perusahaannya, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) yang dukung penuh usaha pemerintah untuk percepatan implementasi energi baru terbarukan (EBT) dengan memproduksi bioavtur Sustainable Aviation Fuel (SAF) dari campuran minyak inti kelapa sawit. Produksi SAF dilakukan di Kilang Cilacap, Jawa Tengah. Green Refinery inisiatif strategis Pertamina dalam mencapai target bauran EBT untuk dapat menghasilkan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan dengan menggunakan bahan baku terbarukan (renewable feedstock). "Bioavtur-SAF berhasil diuji coba pada pesawat komersil milik maskapai Garuda Indonesia dalam penerbangan dari Soekarno Hatta International Airport, Tangerang, Banten, ke kawasan Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, kata Direktur Utama KPI, Taufik Aditiyawarman, lewat keterangan resmi, dilansir dari laman elaeis.co, pada Kamis (12/10). Ini menunjukkan tekad KPI, ujar Taufik, untuk menjadi first mover dalam penyediaan Bioavtur-SAF di kawasan regional. Diketahui, untuk kawasan Regional Asia Tenggara, saat ini hanya KPI yang berhasil melakukan commercial production Bioavtur hingga uji terbang. Keberhasilan uji coba Bioavtur-SAF ini berkat kerja sama Pertamina Group melalui Research dan Technology Innovation (RTI), Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan Pertamina Patra Niaga (PPN) bersama dengan Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Kementerian Perhubungan, ITB, APROBI (Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia), BPDPKS (Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit), LEMIGAS, BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), Garuda Indonesia dan Garuda Facility Maintenance. Bioavtur J2.4 sudah pernah diuji coba produksi di Kilang TDHT/Green Refinery RU IV pada periode 2020-2021 lalu, untuk keperluan uji terbang pesawat CN 235 yang teregister militer. Lalu, pada tahun 2023 ini berupa uji coba produksi untuk keperluan uji terbang pesawat komersial Garuda.