Berlanjut
Sorotan terbaru dari Tag # Berlanjut
Harga Emas Menguat Seiring Redanya Ketegangan Global, Tren Positif Diproyeksikan Berlanjut
Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas global kembali menunjukkan penguatan perdagangan terkini, didorong oleh meredanya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah serta pelemahan mata uang dolar Amerika Serikat. Kombinasi sentimen tersebut meningkatkan daya tarik emas sebagai instrumen lindung nilai, sekaligus memicu minat beli dari pelaku pasar global. Kondisi ini terjadi setelah muncul sinyal positif terkait kemungkinan de-eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Pernyataan dari otoritas Iran yang membuka peluang untuk mengakhiri konflik, dengan syarat adanya jaminan keamanan, disambut optimistis oleh pelaku pasar. Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat juga dikabarkan mempertimbangkan untuk menghentikan langkah militernya, meskipun jalur strategis seperti Selat Hormuz masih belum sepenuhnya pulih. Harapan terhadap proses perdamaian yang semakin nyata ini turut menopang penguatan harga emas dalam beberapa sesi terakhir. Dari perspektif teknikal, Dupoin Futures melalui analisnya, Andy Nugraha, menilai bahwa tren pergerakan emas (XAU/USD) masih berada dalam fase bullish, khususnya dalam timeframe jangka pendek. Hal ini tercermin dari terbentuknya pola candlestick yang mengindikasikan dominasi tekanan beli, yang diperkuat oleh posisi harga di atas indikator Moving Average. Sinyal tersebut menjadi indikasi bahwa momentum kenaikan masih cukup kuat untuk mendorong harga ke level yang lebih tinggi. Pada perdagangan sebelumnya, harga emas sempat mengalami tekanan hingga menyentuh level 4.482 dolar AS. Tetapi, tekanan tersebut tidak berlangsung lama karena pasar dengan cepat merespons sentimen positif, sehingga harga berbalik arah dan naik ke kisaran 4.648 dolar AS. Rebound ini menunjukkan adanya area support yang solid, sekaligus memperlihatkan bahwa pelaku pasar masih memanfaatkan setiap pelemahan sebagai peluang untuk masuk. Andy Nugraha memproyeksikan apabila momentum bullish terus terjaga, maka harga emas berpeluang melanjutkan kenaikan hingga mendekati level resistance di 4.862 dolar AS. Sebaliknya, jika terjadi koreksi akibat aksi ambil untung atau perubahan sentimen, maka penurunan diperkirakan akan tertahan di sekitar level 4.539 dolar AS yang menjadi area support terdekat. Selain faktor teknikal, pergerakan emas juga dipengaruhi oleh dinamika makroekonomi global, khususnya dari Amerika Serikat. Penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke level 4,31% menjadi salah satu faktor pendorong utama penguatan emas. Penurunan yield ini berimbas pada melemahnya dolar AS, yang tercermin dari penurunan Indeks Dolar AS (DXY) ke level 99,91. Pelemahan dolar membuat harga emas menjadi lebih kompetitif bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga meningkatkan permintaan. Di sisi lain, data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat menunjukkan adanya tanda-tanda pelemahan di sektor ketenagakerjaan. Laporan Survei Lowongan Kerja dan Perputaran Tenaga Kerja (JOLTS) mencatat penurunan jumlah lowongan pekerjaan, yang mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja mulai kehilangan momentum. Kondisi ini menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi ke depan. Tetapi, tekanan inflasi masih menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan. Kenaikan harga energi mendorong ekspektasi inflasi tetap tinggi, yang pada akhirnya memengaruhi arah kebijakan moneter. Pernyataan dari pejabat Federal Reserve yang menegaskan pentingnya menjaga ekspektasi inflasi menunjukkan bahwa bank sentral masih akan berhati-hati dalam menentukan kebijakan suku bunga. Bahkan, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga dalam beberapa tahun ke depan mulai berkurang. Dengan latar belakang tersebut, pergerakan harga emas diperkirakan akan tetap dinamis dalam jangka pendek. Meskipun tren bullish masih mendominasi, pelaku pasar tetap perlu mencermati berbagai faktor eksternal yang dapat memengaruhi arah harga, termasuk perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global. Dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, emas tetap menjadi salah satu instrumen yang menarik sebagai lindung nilai, sekaligus peluang investasi di tengah volatilitas yang tinggi.
Harga Emas Masih Stabil Lepas Cetak Rekor, Tren Kenaikan Berlanjut
Jakarta, katakabar.com - Emas stabil di $3.863 setelah cetak rekor $3.895, tren bullish berlanjut didukung ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed. Harga emas (XAU/USD) tetap stabil setelah sempat menembus rekor baru di level $3.895 pada perdagangan Rabu (1/10). Meski mengalami sedikit koreksi, logam mulia ini masih mencatatkan kenaikan lebih dari 0,30 persen dan pada Kamis (2/10) bergerak di sekitar $3.863 per troy ounce. Menurut analisis Andy Nugraha dari Dupoin Futures Indonesia, tren bullish emas masih terjaga, dipicu oleh pelemahan data tenaga kerja AS dan meningkatnya keyakinan pasar bahwa Federal Reserve akan segera memangkas suku bunga. Data perekrutan sektor swasta AS berdasarkan laporan ADP bulan September turun tajam, jauh di bawah perkiraan. Kondisi ini memperlihatkan tanda perlambatan ekonomi sekaligus memperbesar kemungkinan The Fed memangkas suku bunga acuannya pada pertemuan 29 Oktober mendatang. Alat CME FedWatch bahkan memperkirakan 98% peluang pemangkasan 25 basis poin, sementara hanya 4% yang menilai suku bunga akan tetap. Ekspektasi pelonggaran moneter inilah yang menjadi pendorong utama pergerakan emas. Dari sisi teknikal, emas juga menunjukkan sinyal penguatan. Andy Nugraha menyebutkan bahwa kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average masih mengonfirmasi tren bullish pada XAUUSD. “Jika dorongan beli terus berlanjut, emas berpotensi menembus level psikologis $3.900. Namun, jika gagal, support terdekat berada di kisaran $3.837,” ungkapnya dalam analisis harian. Sentimen positif tetap terjaga meski pemerintah AS resmi mengalami penutupan (government shutdown) akibat kebuntuan anggaran di Kongres. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran tertundanya rilis data ekonomi penting seperti Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan Jumat. Dengan keterlambatan tersebut, arah kebijakan moneter The Fed menjadi fokus utama investor dalam menentukan arah emas.
Tekanan Bullish Emas Berlanjut Kuat, Target $3.675 di Depan Mata
Jakarta, katakabar.com - Harga emas (XAU/USD) mencuri perhatian pasar global lagi di pertengahan pekan ini. Setelah naik lebih dari 0,60 persen pada Rabu (10/9) kemarin. logam mulia berlanjut menguat di awal sesi Asia Kamis (11/9) dan sempat diperdagangkan mendekati $3.645 per troy ons. Sentimen dovish dari Federal Reserve (The Fed) serta ketegangan geopolitik menjadi alasan utama investor melirik emas sebagai aset aman. Menurut Andy Nugraha, analis Dupoin Futures Indonesia, sinyal teknikal masih berpihak pada pembeli. Kombinasi candlestick dan indikator Moving Average memperlihatkan tren bullish yang cukup dominan. “Jika dorongan beli terus berlanjut, XAU/USD berpotensi menuju $3.675. Namun, bila terjadi koreksi, support terdekat berada di sekitar $3.619,” jelasnya. Pernyataan tersebut menegaskan emas tetap punya ruang untuk naik lebih tinggi, meskipun potensi penurunan jangka pendek juga harus diwaspadai. Dari sisi fundamental, emas diuntungkan pelemahan Dolar AS setelah rilis data inflasi produsen (PPI) yang lebih rendah dari perkiraan. Data ini menambah keyakinan pasar The Fed akan memangkas suku bunga pada September. Saat ini, pasar uang menilai penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin sudah hampir pasti. Menariknya, peluang pemangkasan yang lebih besar, yakni 50 basis poin, juga mulai naik meski masih di bawah 15 persen. Suku bunga yang lebih rendah menurunkan biaya peluang memegang emas, sehingga aset ini semakin diminati. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun pun ikut turun ke 4,045 persen, sementara imbal hasil riil jatuh ke 1,685 persen. Selain faktor moneter, ketegangan global membuat emas makin diminati. Polandia baru saja menembak jatuh drone Rusia yang melintas wilayahnya. Di Timur Tengah, Israel melancarkan serangan ke Doha, Qatar, menargetkan pimpinan Hamas. Qatar menilai aksi tersebut melanggar hukum internasional dan memperingatkan risiko perluasan konflik. Situasi geopolitik semacam ini biasanya membuat investor beralih ke aset safe haven seperti emas. Aliran modal ke logam mulia pun meningkat, mendukung tren penguatan harga. Semua mata kini tertuju pada laporan Indeks Harga Konsumen atau IHK AS untuk Agustus yang akan dirilis Kamis (11/9) malam.
Bitcoin Dominasi di tahun 2024, Akankah Berlanjut di 2025?
Jakarta, katakabar.com - Tahun 2024 akan tercatat dalam sejarah sebagai momen penting ketika Bitcoin atau BTC resmi bertransformasi menjadi aset yang tak lagi mungkin diabaikan. Pencapaian ini tak lepas dari berbagai peristiwa monumental, termasuk peluncuran Exchange-Traded Funds (ETF) Bitcoin spot dan adopsi strategis BTC oleh sejumlah perusahaan besar, bahkan ketika harganya melampaui ambang psikologis USD $100.000. Tidak hanya itu, Bitcoin juga menjadi isu sentral dalam dinamika politik, mendapatkan perhatian yang setara dengan topik-topik besar lainnya dalam pemilihan presiden Amerika Serikat. Di awal tahun, pasnya Januari 2024, dunia keuangan diguncang oleh keputusan Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) yang menyetujui peluncuran 11 ETF Bitcoin spot. Langkah ini menjadi titik balik yang signifikan, mengingat selama bertahun-tahun SEC bersikeras menolak pengajuan serupa dengan alasan kekhawatiran atas manipulasi pasar dan perlindungan investor.