ASEAN

Sorotan terbaru dari Tag # ASEAN

PWC Dompet Pembayaran Non Custodial Perdana Diakui ASEAN dan Asia Records Ekonomi
Ekonomi
Kamis, 19 Februari 2026 | 22:39 WIB

PWC Dompet Pembayaran Non Custodial Perdana Diakui ASEAN dan Asia Records

Jakarta, katakabar.com - PWC secara resmi telah menjadi dompet pembayaran kripto non-custodial pertama dalam sejarah diakui ASEAN Records dan Asia Records. Ini bukan sekadar berita biasa. Ini awal dari sebuah era baru. Dan semua orang mengetahuinya. Ini bukan akhir. Ini momen ketika PayWithCrypto benar-benar ditulis ke dalam sejarah. Lantaran malam itu, kita saksikan titik balik yang menentukan zaman: PWC menjadi dompet pembayaran kripto non-custodial pertama yang diakui dan tercatat secara resmi di seluruh ASEAN dan Asia. ASEAN dan Asia Records Resmi Ukir Nama PWC dalam Sejarah Dalam dunia kripto yang penuh kebisingan dan spekulasi, rekor tidak pernah bisa diklaim sendiri. Tonggak sejarah sejati hanya terjadi melalui pengakuan resmi dari institusi yang kredibel. Dan malam itu, PWC berhasil mencapainya. PayWithCrypto Super App telah diakui secara resmi oleh: ● ASEAN Records ● Asia Records Dengan satu alasan utama: PWC menghadirkan terobosan nyata dalam infrastruktur pembayaran global: ● Arsitektur dompet non-custodial ● Dompet pembayaran yang melampaui sistem exchange ● Integrasi QR pembayaran nasional multi-negara-scan dan langsung bayar ● Penyelesaian instan crypto ke fiat lintas batas Momen ini hanya berarti satu hal: PWC bukan lagi sekadar proyek. PWC kini adalah infrastruktur. Founder & CEO Vincent Tse Diakui oleh Forbes-Pelopor Ekonomi Digital Malam itu, kita juga saksikan tonggak penting lainnya. Founder & CEO PWC, Vincent Tse, diakui oleh Forbes sebagai salah satu pemimpin teknologi yang sedang membentuk masa depan ekonomi digital. Ini bukan sekadar penghargaan pribadi. Ini adalah sinyal bahwa dunia sedang memperhatikan para pembangun infrastruktur nyata bukan hanya narasi jangka pendek. Sejarah hanya mengingat dua jenis orang: Mereka yang mendefinisikan era dan mereka yang melewatkannya. Co-Founder dan CMO, Jackson Neo, Mengungkap Roadmap 2026: Dari Pembayaran ke Skala Nasional Jika tahun 2025 adalah fase pertama: B2C-Pembayaran kripto untuk pengguna sehari-hari. Maka tahun 2026 adalah fase ekspansi besar berikutnya: B2B-Membuka Lapisan Pembayaran untuk Perdagangan Energi & Logistik Global Pada tahun 2026, PWC akan secara resmi terhubung dengan perusahaan energi dan sistem perdagangan energi. Pembayaran akan memasuki pusat dari: ● Energi ● Logistik ● Perdagangan global Karena pasar terbesar di masa depan bukan hanya produk. Itu adalah energi. Dan PWC akan menjadi jalur pembayaran yang menyelesaikannya. B2G-Memasuki Infrastruktur Pembayaran Tingkat Pemerintahan Yang lebih penting lagi tahun ini, PWC akan terhubung dengan sistem pembayaran denda pemerintah Abu Dhabi. Secara resmi membuka era baru: B2G-Infrastruktur pembayaran antara perusahaan dan pemerintah. Ini berarti PWC tidak hanya melayani pengguna. PWC sedang memasuki use case berskala nasional. Dan komunitas global kami akan pergi bersama ke Abu Dhabi untuk menyaksikan bab pertumbuhan berikutnya secara langsung. Setelah PWC ONE, Dunia Tidak Akan Lagi Bertanya: “Apakah PWC Nyata?” Dunia tidak akan lagi bertanya: “Apakah PayWithCrypto nyata?” Dunia hanya akan bertanya satu hal: Seberapa awal Anda ikut serta?Karena PWC ONE tidak pernah hanya sekadar acara tahunan. Ini melambangkan: One Platform. One App. One Mission. One Vision. Dan ini melambangkan: One for All. All in One. PWC ONE bukanlah akhir. Ini adalah momen ketika masa depan dinyalakan. Dan bab berikutnya tidak akan menunggu siapa pun.

Posisi Global AAC dan Strategi ASEAN Nasional
Nasional
Rabu, 10 Desember 2025 | 11:00 WIB

Posisi Global AAC dan Strategi ASEAN

Jakarta, katakabar.com - Di tengah fase kritis restrukturisasi ekonomi global, Aurora Archipelago Capital (AAC) muncul sebagai jembatan kunci yang menghubungkan disiplin investasi Wall Street dengan dinamika pertumbuhan nyata di kawasan ASEAN. Dipandu oleh filosofi “Disiplin Wall Street × Jiwa Indonesia,” AAC menggabungkan kerangka kerja investasi nilai yang matang dengan pemahaman mendalam tentang struktur ekonomi, budaya, dan lanskap kebijakan Indonesia mengubah paradigma investasi di pasar emerging. Selama dekade terakhir, AAC telah mendirikan kantor pusat ganda di San Francisco dan New York, membangun keunggulan struktural dalam jaringan modal global, data ESG, dan sistem riset. Mulai tahun 2025, firma ini secara resmi mengalihkan fokus strategisnya ke ASEAN, khususnya Indonesia salah satu ekonomi dengan pertumbuhan paling stabil di dunia. Dengan populasi 280 juta, Indonesia berada di persimpangan rantai nilai global seperti energi geothermal, nikel, minyak sawit, dan keuangan digital, memberikan posisi strategisnya dalam ekonomi global. Sedang, kelas menengah ASEAN kini lebih dari 600 juta orang terus mendorong pertumbuhan konsumsi dan percepatan digital, menempatkan kawasan ini sebagai salah satu mesin pertumbuhan paling menjanjikan di abad ke 21. Berlandaskan pengamatan mendalam terhadap tren regional jangka panjang, AAC telah merancang strategi investasi yang berfokus pada inovasi teknologi, pertumbuhan hijau, dan pembangunan inklusif. Di bidang keuangan digital, AAC berinvestasi dalam bank digital, sistem pembayaran cerdas, dan platform manajemen risiko berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan analisis tren dan mitigasi risiko secara real-time. Di sektor pertumbuhan hijau, AAC berkomitmen mendukung energi geothermal, pengolahan nikel hilir, dan rantai pasok baterai menguatkan transisi Asia Tenggara menuju masa depan rendah karbon. Pembangunan inklusif ditingkatkan melalui keuangan syariah, pemberdayaan UMKM, dan inisiatif pendidikan pemuda, memastikan pertumbuhan ekonomi menjadi lebih adil dan berkelanjutan.Untuk memastikan analisis investasi didasarkan pada kondisi nyata Indonesia, AAC telah memperkenalkan Kerangka Nilai Tropis yang inovatif. Model ini menggabungkan metodologi DCF tradisional dengan faktor-faktor unik Indonesia seperti siklus musim hujan, data pemantauan sumber daya alam, kebijakan bank sentral, dan prinsip-prinsip keuangan syariah menghasilkan penilaian yang lebih akurat dan stabil.Dalam praktiknya, AAC beroperasi melalui struktur organisasi tiga pilar: Frontier Fund, Impact Analysis Center, dan Innovation Lab. Frontier Fund berfokus pada aset inti Indonesia dan pasar emerging lainnya; pusat analisis memanfaatkan data ESG, citra satelit, dan model AI untuk menghasilkan riset presisi tinggi; dan laboratorium inovasi menginkubasi perusahaan fintech, memperkuat ekosistem inovasi regional. Didukung oleh sistem-sistem ini, AAC telah mencapai hasil yang luar biasa:- Aset yang dikelola melebihi USD 29,5 miliar- Pertumbuhan pesat dalam alokasi aset pasar emerging- Imbal hasil tahunan gabungan selama sepuluh tahun sebesar 17,8%, melampaui benchmark globalAAC juga menunjukkan dampak yang kuat dalam transisi energi hijau, penciptaan lapangan kerja, dan pendidikan mengukuhkan perannya sebagai kekuatan utama dalam investasi berdampak global. Menatap ke depan, AAC akan terus memperkuat kehadirannya di Indonesia dengan menginvestasikan modal, teknologi, dan inisiatif pendidikan untuk membantu ASEAN memasuki fase pertumbuhan berkualitas tinggi. Dengan visi menjadi jembatan antara profesionalisme Wall Street dan semangat dinamis kepulauan Indonesia, AAC berkomitmen mendukung perjalanan Indonesia menuju bergabung dengan lima besar ekonomi dunia pada 2045 sambil menerangi jalur pertumbuhan berkelanjutan bagi pasar emerging di seluruh dunia.

Huawei Cloud Ekspansi Besar di Indonesia, Kemitraan AI Baru Kekuatan Utama AI ASEAN Internasional
Internasional
Sabtu, 06 Desember 2025 | 08:37 WIB

Huawei Cloud Ekspansi Besar di Indonesia, Kemitraan AI Baru Kekuatan Utama AI ASEAN

Jakarta, katakabar.com - Perhelatan Huawei Cloud Summit Indonesia yang digelar di Jakarta hari ini, Huawei Cloud umumkan sejumlah komitmen penting guna mengukuhkan posisi Indonesia sebagai mesin penggerak utama pengembangan teknologi AI untuk kawasan ASEAN. Pengumuman yang dibuat di hadapan lebih dari 500 perwakilan dari pemerintahan dan dunia usaha serta pimpinan ekosistem ini juga mencakup rencana Huawei Cloud untuk meluncurkan zona infrastruktur baru, kemitraan penting di bidang AI, serta inisiatif pengembangan talenta digital nasional. Inti dari strategi Huawei Cloud adalah penguatan dan pendalaman kolaborasi dengan para pelopor digital Indonesia. Huawei Cloud telah membangun ekosistem digital yang terus berkembang di Indonesia melalui kolaborasi dengan lebih dari 300 mitra untuk melayani pelanggan di berbagai sektor industri. Kemitraan mencakup kolaborasi dengan raksasa industri telekomunikasi Telkomsel, Indosat, dan XLSmart, BUMN ketenagalistrikan PT PLN, dan nama-nama besar seperti Bluebird, BCA, CT Corp, dan Alfamart. Kolaborasi Huawei Cloud dengan para pimpinan industri ini bertujuan mendorong transformasi digital dan AI di semua sektor. “Era AI telah tiba, dan Indonesia–dengan populasi yang besar dan perekonomian yang dinamis–berada pada posisi strategis untuk menjadi kekuatan utama AI di kawasan,” kata Sunny Shang, President, Huawei Cloud Asia Pacific. “Huawei Cloud berkomitmen untuk terus memperkuat infrastruktur lokal dan kapabilitas AI full-stack kami dalam upaya mendorong laju transformasi kecerdasan bersama dengan mitra ekosistem kami,” jelasnya. Sedang Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menegaskan, saat ini, Indonesia sedang menuju realisasi peta jalan AI Nasional yang menyeimbangkan inovasi dengan regulasi. Peta jalan kami berlandaskan pada percepatan adopsi, etika dan kepercayaan yang terjamin, memprioritaskan pada inklusivitas, di samping pengembangan infrastruktur, talenta, investasi, dan litbang. Lantaran itu, ujar Nezar, kami menyambut baik peningkatan dan perluasan infrastruktur Huawei Cloud di Indonesia untuk mengantar Indonesia memasuki era AI. "Kolaborasi dengan para pemimpin teknologi global seperti Huawei sangat penting untuk memanfaatkan keahlian internasional dan mendorong pertumbuhan yang inklusif dan inovatif, serta membentuk masa depan bangsa yang terhubung," imbuhnya. Meletakkan Landasan Kesiapan AI Di momen tersebut, Xin Dajiang, Chairman, Board of Directors, Huawei Indonesia menegaskan kembali komitmen Huawei untuk memperkuat fondasi bagi pertumbuhan bisnis yang aman, terukur dan terus meningkat serta dengan senantiasa menghormati kedaulatan data Indonesia, melalui peluncuran Zona Ketersediaan (Availability Zone) keempat dari Region Jakarta Huawei Cloud di tahun 2026. “Sejak peluncuran Region Jakarta Huawei Cloud, kami terus meningkatkan kontribusi kami bagi Indonesia. Kami merasa terhormat dapat bermitra dengan para pemimpin industri dan mendukung ratusan usaha kecil dan menengah. Bersama-sama, upaya ini telah menciptakan puluhan ribu lapangan kerja dan membina generasi baru talenta digital. Komitmen kami terhadap Indonesia sangat kuat. Sebagai perusahaan internasional dengan akar lokal yang kuat, kami tidak hanya hadir untuk menyediakan teknologi, tetapi juga untuk berdiri bersama negara ini saat berkembang menjadi pemimpin digital di Asia Tenggara,” tegas Xin Dajiang. Sementara, Leon Fang, CEO Huawei Cloud Indonesia, mengatakan perluasan yang direncanakan untuk tiga zona ketersediaan (AZ) di Region Jakarta Huawei Cloud akan semakin mendorong inovasi dalam transformasi digital bagi individu, perusahaan, dan pemerintah di Indonesia. Hal ini didukung oleh penyediaan layanan yang andal dengan ketersediaan tinggi, pemulihan bencana aktif-aktif, dan layanan dengan latensi rendah ke seluruh kepulauan Indonesia sejak peluncuran Region Jakarta pada tahun 2022. “Investasi infrastruktur ini merupakan landasan bagi inovasi, menyediakan fondasi yang tangguh dan berperforma tinggi yang dibutuhkan oleh bisnis di Indonesia untuk memanfaatkan AI dengan percaya diri,” tegas Leon Fang. Pengumuman Rangkaian Kemitraan AI Strategis Dalam Summit ini, Huawei juga mengumumkan dua kemitraan besar: Kemitraan AI Strategis dengan Telkomsel: Huawei Cloud dan operator seluler terkemuka Indonesia ini akan berkolaborasi untuk mengakselerasi kecerdasan industri melalui pemanfaatan kapabilitas AI full-stack dari Huawei Cloud. Layanan CDN Bersama dengan Telkom: Kedua perusahaan meluncurkan layanan Jaringan Distribusi Konten (CDN) yang dikembangkan bersama untuk meningkatkan kecepatan distribusi konten lokal dan pengalaman pengguna. Mendukung Inovasi dengan Rangkaian Lengkap Teknologi AI Dalam menyediakan platform inovasi AI yang komprehensif, Huawei Cloud menghadirkan Data Fabric lakehouse berbasis AI (AI-native) untuk analisis data secara waktu nyata (real-time), layanan data warehouse yang ditingkatkan DWS 3.0, dan database berkinerja tinggi TaurusDB. Untuk pengembangan AI, platform all-in-one ModelArts dan platform agen AI Versatile tersedia bagi bisnis untuk membangun dan mengimplementasikan solusi secara efisien. “AI berkembang dengan cepat dari AI generatif ke AI agentik, dari yang bersifat umum ke spesifik industri,” kata William Dong, President, Huawei Cloud Marketing. “Portofolio AI terbuka dan lengkap kami dirancang untuk membantu perusahaan di Indonesia menavigasi perubahan ini dan memanfaatkan peluang baru,” terangnya. “Cloud for Good”: Komitmen Bagi Masa Depan Berkelanjutan Indonesia Selaras dengan semangat gotong royong Indonesia yang mengedepankan kerja sama mutual, Huawei Cloud memperkuat komitmen “Cloud for Good”. Berpegang pada falsafah ini, Huawei Cloud fokus pada pengembangan talenta lokal dan dukungan terhadap pembangunan berkelanjutan. “Kami telah bermitra dengan lebih dari 100 universitas dan perguruan tinggi, lebih dari 20 lembaga pemerintahan, serta pelanggan utama untuk melatih dan mengembangkan lebih dari 100.000 profesional digital di Indonesia,” timpal Aka Dai Director, Huawei Cloud Marketing. “Kami memperluas kolaborasi di bidang-bidang kritikal seperti pertanian, kesehatan, dan pendidikan, guna mendorong masa depan yang inklusif dan cerdas bagi bangsa Indonesia,” ulasnya. Momen Khusus dan Pengakuan bagi Mitra Ekosistem Perhelatan ini juga menandai peluncuran Aliansi Kemitraan AI Huawei Cloud Indonesia untuk Pemerintah dan Perusahaan (Huawei Cloud Indonesia AI Partner Alliance for Governments and Enterprises), tempat mitra-mitra Huawei Cloud seperti Ulearning, Cloudwise, dan Dyna.AI bergabung dan bekerja sama untuk mempercepat adopsi AI. Pada kesempatan yang sama, pelanggan Huawei Cloud seperti Bank Neo Commerce dan Alfamart memamerkan pencapaian inovasi mereka. Selain itu, Huawei Cloud menyerahkan penghargaan tahunan bagi para mitra ekosistem teratas. Di area pameran, deretan teknologi terdepan dipamerkan, termasuk AI Magic Mirror dan berbagai inovasi terbaru dalam database dan big data dari Huawei Cloud dan mitranya.

ASEAN Rumuskan Profil Pembiayaan Karbon Biru Perdana Langkah Strategis Ekonomi Biru Internasional
Internasional
Minggu, 30 November 2025 | 18:00 WIB

ASEAN Rumuskan Profil Pembiayaan Karbon Biru Perdana Langkah Strategis Ekonomi Biru

Jakarta, katakabar.com - Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN), Pemerintah Jepang, dan United Nations Development Programme (UNDP) menyelenggarakan ASEAN Regional Workshop on Blue Carbon and Finance Profiling pada 27 hingga 28 November 2025 lalu, di Jakarta. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat koneksi antara sains dan kebijakan dalam upaya penanganan perubahan iklim di wilayah pesisir dan perairan tawar. Lokakarya yang berlangsung di kantor BAPPENAS ini merupakan bagian dari Proyek ASEAN Blue Carbon and Finance Profiling (ABCF), inisiatif regional yang didanai Pemerintah Jepang dan diimplementasikan oleh UNDP Indonesia bersama ASEAN Coordinating Task Force on Blue Economy (ACTF-BE). Proyek ini mendukung negara-negara ASEAN dalam memahami kondisi serta nilai ekonomi ekosistem pesisir dan e, sehingga dapat merancang kebijakan yang lebih efektif dan meningkatkan akses terhadap pembiayaan untuk perlindungan dan pemulihan ekosistem tersebut. Sebanyak 30 pakar teknis dari 11 Negara Anggota ASEAN hadir untuk membahas metode pengumpulan data, meninjau pendekatan ilmiah, dan memfinalisasi penyusunan 11 national Blue Carbon Profiles serta 11 national Blue Finance Profiles, lengkap dengan dua profil regional. Profil-profil tersebut dijadwalkan diluncurkan pada Maret 2026 dan akan memberikan panduan bagi pemerintah dalam memahami aset karbon biru, kebutuhan pembiayaan, serta peluang kebijakan untuk memperkuat perlindungan pesisir, strategi iklim, dan investasi di sektor ekonomi biru berkelanjutan. Ekosistem pesisir seperti mangrove, padang lamun, dan lahan gambut merupakan aset alam bernilai tinggi namun rentan. Ekosistem ini berperan penting dalam menyimpan karbon, mendukung perikanan, melindungi garis pantai dari erosi, serta menjadi sumber mata pencaharian masyarakat pesisir. Namun, tekanan dari alih fungsi lahan, polusi, dan dampak perubahan iklim terus mengancam keberlanjutan ekosistem tersebut. Melalui ABCFP, ASEAN berupaya mengatasi kesenjangan pengetahuan dan pendanaan dengan memetakan potensi ekosistem biru, mengidentifikasi kebijakan pendukung, dan merumuskan jalur pembiayaan publik, swasta, dan inovatif. Membuka lokakarya atas nama ASEAN sebagai Shepherd ACTF-BE, Dr. Eka Chandra Buana, Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan BAPPENAS, menegaskan pentingnya penguatan karbon biru dan pembiayaan biru dalam agenda ekonomi biru ASEAN. “Lokakarya ini menunjukkan bagaimana Negara-Negara Anggota ASEAN dapat bekerja bersama untuk memperkuat basis pengetahuan dan mengembangkan pendekatan yang mendukung pembangunan berkelanjutan di kawasan,” ujarnya. Sedang, Chujo Kazuo, Menteri/Wakil Kepala Misi, Kantor Misi Jepang untuk ASEAN, menegaskan kembali kemitraan strategis Jepang dengan ASEAN serta komitmennya dalam mendukung pembangunan ekonomi biru berkelanjutan. Ia menyampaikan, Jepang sangat menghargai kolaborasi dengan mitra regional dan para ahli lokal. Kami percaya bahwa keahlian harus berpijak pada pengetahuan lokal dan kebijakan harus dibangun melalui kepemilikan regional. Ia menambahkan, pekerjaan ke depan memang kompleks, namun dampaknya sangat transformatif. Melalui proyek ini, kita mengambil langkah penting untuk melindungi ekosistem vital, memperkuat ketahanan iklim, menciptakan peluang ekonomi berkelanjutan, dan menjaga kemakmuran serta keamanan kawasan. Deputy Resident Representative UNDP Indonesia, Sujala Pant, menyoroti kuatnya kolaborasi regional dalam proses penyusunan profil tersebut. Menurutnya, inisiatif ini melibatkan 98 pakar dari 35 lembaga akademik dan penelitian di ASEAN dan Timor-Leste. Komunitas ilmiah sebesar ini sangat penting bagi kawasan, dan jejaring yang terbentuk melalui proses ini diharapkan dapat terus mendukung ACTF-BE dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Ia menekankan tujuan utama lokakarya, kegiatan ini dirancang sebagai ruang kerja untuk menyempurnakan draft, memperkuat asumsi, serta mengidentifikasi keterkaitan antara analisis karbon dan pembiayaan, sambil memahami pola dan tren di tingkat regional. Sepanjang lokakarya, peserta berdiskusi mengenai integrasi data, metode valuasi, dan kerangka pembiayaan untuk memastikan produk akhir menjadi alat praktis bagi pengambilan keputusan nasional dan regional.

Sentral Minyak Sawit Global di Kawasan ASEAN Sawit
Sawit
Selasa, 30 September 2025 | 20:16 WIB

Sentral Minyak Sawit Global di Kawasan ASEAN

katakabar.com - Sentral minyak sawit global di kawasan ASEAN, sehingg punya peran signifikan di sektor industri minyak sawit. Bersama dua negara lain dari kawasan Asia Tenggara, yakni Malaysia dan Thailand, Indonesia menduduki posisi tiga besar sebagai negara dengan produksi minyak sawit (crude palm oil/CPO) terbesar di dunia. Menurut data USDA (2025), total produksi CPO dari ketiga negara tersebut mencapai 68,7 juta ton pada periode 2024/2025 atau setara dengan 87 persen dari total produksi CPO global. Sedang, jurnal PASPI Monitor (2022) berjudul Kawasan Asia sebagai Pusat Pertumbuhan Konsumsi Minyak Sawit Dunia menyebutkan, kawasan ASEAN punya andil signifikan di sektor industri minyak sawit global. Selain berperan sebagai produsen utama, kawasan ASEAN merupakan salah satu wilayah dengan tingkat konsumsi minyak sawit tertinggi di dunia. Berikut ini ulasan mengenai peran dan posisi kawasan ASEAN sebagai pusat produksi sekaligus konsumsi minyak sawit dunia yang dirangkum dari jurnal PASPI (2022). Sentra Produksi CPO Global: Selama periode 2010–2021, produksi minyak sawit dunia mengalami peningkatan signifikan, yakni dari 49 juta ton pada tahun 2010 menjadi sekitar 75 juta ton pada tahun 2021. Jadi, kurun waktu tersebut telah terjadi penambahan produksi sekitar 27 juta ton atau setara dengan rata-rata 2,7 juta ton per tahun (PASPI, 2022). Sekitar 87-89 persen dari total produksi minyak sawit dunia di periode 2010-2021 dihasilkan di kawasan Asia Tenggara yang tergabung dalam Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara atau Association of Southeast Asian Nations (ASEAN). Empat negara utama produsen minyak sawit di kawasan tersebut adalah Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Selain berperan di kawasan ASEAN, negara-negara produsen minyak sawit di kawasan Asia Tenggara tersebut juga menjadi anggota dalam organisasi lain, seperti ASEAN Free Trade Area (AFTA) dan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC). Secara kolektif, keanggotaan ini memperkuat peran strategis kawasan dalam penyediaan minyak nabati, baik untuk memenuhi kebutuhan regional maupun global. ASEAN sebagai produsen terbesar minyak sawit sekaligus minyak nabati di dunia memiliki peran strategis tidak hanya dalam pemenuhan kebutuhan oleofood complex global, tetapi juga dalam oleochemical complex dan bioenergy/biofuel complex dunia. Minyak sawit yang dihasilkan oleh negara-negara ASEAN menjadi penopang utama berbagai sektor ekonomi di banyak negara. Hal tersebut mengingat tingginya ketergantungan industri global terhadap pasokan minyak sawit dari kawasan ini (Shigetomi et.al., 2020). Kawasan Konsumsi Minyak Sawit Dunia: tidak hanya jadi pusat produksi minyak sawit di dunia, kawasan ASEAN juga berperan sebagai konsumen utama minyak sawit global (PASPI, 2022). Kawasan ini mencatat konsumsi sekitar 30 persen dari total konsumsi minyak sawit global.

ASEAN Sparks: Catalyse Undang Startup Energi dan Iklim Siap Tumbuh Pesat di Asia Tenggara Ekonomi
Ekonomi
Jumat, 18 Juli 2025 | 10:14 WIB

ASEAN Sparks: Catalyse Undang Startup Energi dan Iklim Siap Tumbuh Pesat di Asia Tenggara

Jakarta, katakabar.com - Tahap kedua dari program ASEAN Sparks, yakni Catalyse, resmi dimulai dengan dibukanya pendaftaran untuk startup di bidang clean energy dan climate tech hingga 20 Juli 2025! Meliputi workshop dan sesi mentoring intensif yang berlangsung dari Agustus hingga Oktober 2025, Catalyse bertujuan mendukung pertumbuhan eksponensial startup serta membuka jalan untuk tampil di panggung internasional ASEAN Energy Business Forum atau AEBF 2025. ASEAN Centre for Energy atau ACE, bekerja sama dengan United Nations Industrial Development Organization atau UNIDO, dengan dukungan dari Japan-ASEAN Integration Fund atau JAIF, dan Ministry of Economy, Trade and Industry atau METI Jepang, secara resmi membuka pendaftaran untuk fase berikutnya dari program akselerator startup mereka, ASEAN Sparks: Catalyse. Program ini ditujukan bagi startup dari seluruh Asia Tenggara yang bergerak di bidang efisiensi energi, energi terbarukan, clean energy, dan climate tech lainnya. Melanjutkan kesuksesan fase pertama, Ignite, yang melibatkan 40 startup tahap awal melalui serangkaian workshop dan sesi mentoring, Catalyse menjadi langkah krusial selanjutnya dalam perjalanan program ini. “Banyak startup di kawasan ASEAN mengalami keterbatasan akses terhadap dukungan yang mereka butuhkan, sehingga sulit bagi mereka untuk berkembang dari tahap awal menuju tahap komersial,” kata Dr. Zulfikar Yurnaidi, Acting Manager of Energy Efficiency and Conservation (CEE) Department, ASEAN Centre for Energy. Ia menambahkan, Catalyse dirancang untuk menjembatani kesenjangan tersebut dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem energi. Selain itu, program ini juga bertujuan memperkuat kapasitas lokal dalam membangun ekosistem inovasi climate tech yang berkelanjutan. Beda dengan Ignite yang berfokus pada dasar bisnis dan validasi solusi, Catalyse menawarkan pengalaman akselerasi yang lebih mendalam dan terfokus bagi startup yang lebih matang. Selama tiga bulan, startup yang terpilih akan mendapatkan manfaat berupa:

Simplyfi™ Luncurkan Platform Baru Simplyfi.co Perluas Jangkauan Berdayakan UKM ASEAN Internasional
Internasional
Kamis, 04 Juli 2024 | 19:35 WIB

Simplyfi™ Luncurkan Platform Baru Simplyfi.co Perluas Jangkauan Berdayakan UKM ASEAN

Jakarta, katakabar.com - Simplyfi™ luncurkan Simplyfi.co tandai perubahan strategis tingkatkan jangkauan kami di kawasan ASEAN. Berbasis di Singapura, pusat keuangan regional, Simplyfi.co fokus penyederhanaan pemeriksaan kesehatan keuangan bisnis, melalui alat perkiraan keuangan drag-and-drop milik kami, Simplyfi™ Forecast. Dengan kendali keuangan yang jelas yang disediakan Simplyfi™ Forecast, kami berdayakan perusahaan-perusahaan ambisius untuk mengembangkan rencana keluar mereka, dan mencocokkannya dengan pemodal, sehingga memfasilitasi pertumbuhan dan ekspansi regional.