Bersama Disdik, SU Kukuhkan Diri PTS Terdepan Penguatan Kompetensi AI Guru se Sumsel
Palembang, katakabar.com - Dinas Pendidikan Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan gandeng Satu University Palembang dan platform edukasi GreatNusa sebagai upaya perkuat kompetensi guru di bidang teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Kolaborasi ini diwujudkan melalui pelatihan bertajuk “AI for Education” yang menyasar guru SMA dan SMK di seluruh wilayah Sumatera Selatan. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari audiensi yang telah dilakukan oleh Rektor Satu University, Bapak Win Ce, S.Kom,. M.M. dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Sumatera Selatan Februari 2026 lalu. Kegiatan yang digelar secara hybrid ini diikuti oleh 40 guru secara langsung di Satu University Palembang dan lebih dari 394 guru SMA/SMK kurang lebih dari 11 Kabupaten dan 3 Kota di Provinsi Sumatera Selatan secara daring. Program ini difokuskan pada peningkatan kapasitas tenaga pendidik dalam mengintegrasikan AI ke dalam proses pembelajaran yang lebih adaptif, efisien, dan relevan dengan kebutuhan era digital, sejalan dengan upaya Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan Bersama Satu University Palembang dalam mendorong transformasi pendidikan. Acara diawali dengan pembukaan secara daring oleh Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan, Hj. Mondyaboni, S.E., S.Kom., M.Si., M.Pd.. Meskipun berhalangan hadir secara langsung, beliau tetap memberikan sambutan dan dukungan penuh terhadap pelaksanaan kegiatan ini. Pembukaan kegiatan secara langsung di Kampus Satu University Palembang dilaksanakan oleh Dr. Febriansyah, S.E., M.M. (Kasi PTK SMK) yang hadir langsung di Satu University Palembang mewakili Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan, sekaligus menandai dimulainya kegiatan secara resmi. Hj. Mondyaboni, S.E., S.Kom., M.Si., M.Pd. menegaskan penguatan kompetensi guru dalam bidang teknologi menjadi langkah strategis meningkatkan kualitas pendidikan di daerah. “Penguatan kapasitas guru dalam memahami dan memanfaatkan teknologi, termasuk AI, menjadi kebutuhan yang tidak terelakkan. Kami sangat mendukung program-program positif seperti ini sebagai upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Sumatera Selatan,” ujarnya. Wakil Rektor II Satu University Palembang, Bapak Dr. Lodovicus Lasdi, S.E., M.M., A.k., CA., CPA., CAP., menyampaikan bahwa peran institusi pendidikan tinggi sangat penting dalam mendukung transformasi digital di sektor pendidikan. “Pemanfaatan AI dalam pendidikan bukan lagi sekadar tren, tetapi sudah menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran modern. Kami berkomitmen untuk terus mendukung peningkatan kompetensi guru agar siap menghadapi disrupsi teknologi,” jelasnya. Sebagai bentuk komitmen institusi dalam mengawal kualitas pelaksanaan kegiatan, jajaran akademik SATU University Palembang juga turut hadir secara langsung, di antaranya Dr. Febriyanti Panjaitan, S.Kom., M.Kom. (Head of Program Teknik Informatika) dan Hery Oktafiandi, S.T., M.Eng. (Head of Program Sistem Informasi). Keterlibatan langsung ini mencerminkan dedikasi kampus dalam memastikan program pengembangan kompetensi berjalan optimal dan memberikan dampak nyata bagi para peserta. Dari sisi implementasi teknis, GreatNusa melalui expert di bidang AI, Marisca Revani Putri, yang membawakan materi prompting, menekankan bahwa kemampuan menyusun perintah (prompt) yang tepat menjadi fondasi utama dalam penggunaan AI secara efektif dalam pembelajaran. “Prompting adalah keterampilan dasar dalam menggunakan AI. Dengan prompt yang tepat, guru dapat menghasilkan materi ajar, soal, hingga konten pembelajaran yang lebih personal, dan efisien sesuai kebutuhan siswa,” ulasnya. Di pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi komprehensif mulai dari teknik dasar hingga lanjutan dalam prompting, pemanfaatan AI untuk penyusunan materi ajar, pengembangan metode pembelajaran interaktif, hingga optimalisasi evaluasi pembelajaran berbasis teknologi. Selain sesi pemaparan, kegiatan juga dilengkapi dengan praktik langsung dan diskusi interaktif guna memastikan para peserta mampu mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Salah satu peserta kegiatan AI for Education, Desra Triyunsari, M.Kom., guru Informatika SMA Negeri 19 Palembang, menyampaikan apresiasinya terhadap pelatihan yang diikuti. “Sebagai guru Informatika, saya mendapatkan banyak ilmu baru melalui kegiatan ini, khususnya pemanfaatan AI untuk mendukung proses pembelajaran. Pelatihan ini membantu kami dalam mengakses dan mengembangkan materi ajar yang lebih relevan dengan kebutuhan siswa. Saya berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi tenaga pengajar lainnya, sehingga kami dapat mengimplementasikan ilmu yang diperoleh kepada siswa secara lebih optimal,” ucapnya. Kolaborasi antara Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan, Satu University Palembang, dan GreatNusa ini menjadi langkah pasti mendorong percepatan transformasi digital pendidikan khususnya di Sumatera Selatan. Dengan menjangkau lebih dari 400 tenaga pendidik dari berbagai kabupaten dan kota, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan dampak berkelanjutan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran, efisiensi kerja guru, serta menciptakan pengalaman belajar yang lebih adaptif dan relevan bagi siswa. Ke depan, Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan bersama Satu University Palembang berkomitmen untuk terus menghadirkan program pengembangan kompetensi bagi tenaga pendidik. Apabila terdapat kesempatan lanjutan, kolaborasi ini akan kembali diwujudkan melalui program-program yang inovatif dan berdampak.
Kolaborasi Teknologi: Blaize dan Datacomm Eksplorasi Solusi AI Inference se Indonesia
Jakarta, katakabar.com - Blaize Holdings, Inc (Blaize), perusahaan global di bidang komputasi AI yang programmable dan hemat energi, bersama PT Datacomm Diangraha (Datacomm), salah satu penyedia layanan TI terkemuka di Indonesia, resmi teken Nota Kesepahaman (MoU) untuk aliansi teknologi eksplorasi potensi solusi AI inference di seluruh Indonesia. Seremoni penandatanganan dilakukan di Gitex Asia 2026, Singapura, sebagai langkah awal komitmen kedua perusahaan dalam mendorong pemanfaatan AI yang lebih aplikatif di pasar Indonesia. Indonesia: Pasar AI Kian Strategis Indonesia menjadi salah satu pasar AI dengan pertumbuhan tercepat di Asia Pasifik. Masuknya hyperscaler global, pengembangan infrastruktur digital berdaulat, serta ekspansi teknologi enterprise mempercepat adopsi AI di berbagai sektor. Laporan Empowering Indonesia Report 2025 dari Indosat Ooredoo Hutchison dan Twimbit, menyebutkan sovereign AI berpotensi menyumbang hingga USD 140 miliar terhadap PDB Indonesia pada 2030, dengan pertumbuhan ekonomi tahunan mencapai 6,8 persen. Sementara, sektor AI Indonesia tumbuh dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) 31 persen. Angka tersebut tertinggi di Asia Tenggara (Digital in Asia, 2026). Melihat peluang ini, Blaize dan Datacomm memposisikan aliansi mereka untuk menjawab kebutuhan pasar, dengan fokus pada Physical AI, keamanan publik dan pengawasan, AI industry, dan logistik. Ruang Lingkup Kerja Sama Melalui MoU ini, kedua perusahaan berencana mengeksplorasi sejumlah area, di antaranya: AI Inference as a Service di DCloud Integrasi platform Hybrid AI Blaize dengan DCloud (layanan cloud Datacomm), dan infrastruktur data center Datacomm untuk menghadirkan layanan inference yang scalable bagi pelanggan enterprise. Physical AI, Keamanan Publik, Pengawasan dan Logistik Pengembangan use case AI inference seperti analitik video, smart surveillance, peningkatan keamanan fisik, serta optimalisasi logistik di sektor publik maupun enterprise di Indonesia. AI Industri Pemanfaatan AI inference untuk otomasi industri di Indonesia, termasuk computer vision dan teknologi berbasis sensor. “Asia Pasifik saat ini berada pada titik krusial dalam perkembangan AI inference, dan Indonesia menonjol sebagai salah satu kontributor utama pertumbuhan tersebut,” kata Dinakar Munagala, Co-Founder dan Chief Executive Officer Blaize. Menurut Dinakar, Datacomm memiliki fondasi infrastruktur yang kuat serta relasi enterprise yang solid. Mereka punya relasi kuat dengan pelanggan enterprise yang dibutuhkan pasar ini. Jadi, ucap Dinakar, kami bersama-sama eksplorasi bagaimana platform AI Blaize yang dapat diprogram dan hemat energi dapat menghadirkan nilai nyata di dunia nyata, mulai dari keamanan publik, infrastruktur cerdas, physical AI, hingga logistik di seluruh Indonesia. Aliansi ini menjadi fondasi yang kuat, dan kami berkomitmen untuk terus mengembangkannya. Presiden Direktur dan Founder Datacomm, Tan Wie Tjin, menegaskan kesiapan perusahaan menyambut era AI. “Di Datacomm, kami telah menghabiskan lebih dari tiga dekade untuk membangun kepercayaan dari berbagai pelanggan enterprise, instansi pemerintah, dan operator infrastruktur kritikal di Indonesia,” ujar Wie Tjin. “Indonesia berada di ambang transformasi AI yang signifikan, dan kebutuhan akan solusi inference yang cerdas, scalable, serta aman terus meningkat di setiap sektor yang kami layani. Aliansi dengan Blaize ini langkah yang natural sekaligus menarik dalam perjalanan kami menuju era AI," imbuhnya. Dijelaskannya, kombinasi antara infrastruktur cloud dan data center Datacomm dengan platform AI inference kelas dunia dari Blaize menempatkan kami pada posisi yang unik untuk menjawab kebutuhan tersebut. Saya menantikan berbagai peluang yang akan dihadirkan aliansi teknologi ini, baik bagi pelanggan kami maupun masa depan digital Indonesia, tuturnya. MoU ini bersifat non-binding dan menjadi kerangka awal kerja sama. Kedua pihak dapat melanjutkan ke proyek konkret melalui perjanjian lanjutan di masa mendatang. Kolaborasi ini akan memprioritaskan pengembangan solusi AI inference yang aman, scalable, dan hemat energi, serta dapat terintegrasi secara mulus dengan lingkungan cloud, data center, maupun infrastruktur fisik yang telah ada di seluruh Indonesia. Tentang Blaize Blaize Holdings, Inc. merupakan perusahaan teknologi global yang mengembangkan platform AI programmable untuk kebutuhan inference di dunia nyata. Dengan arsitektur Hybrid AI, Blaize menggabungkan Graph Streaming Processor (GSP) dengan infrastruktur berbasis GPU untuk mendukung berbagai aplikasi seperti computer vision, smart city, industri, hingga logistik. Kunjungi www.blaize.com atau follow LinkedIn @blaizeinc untuk informasi lebih lanjut. Tentang Datacomm PT Datacomm Diangraha adalah perusahaan layanan Teknologi Informasi terkemuka di Indonesia dengan pengalaman lebih dari 30 tahun. Datacomm mengoperasikan platform cloud publik DCloud yang didukung data center bersertifikasi global di wilayah Jabodetabek.
Mini Demo Day Tampilkan Solusi AI Otomasi Workflow UMKM di Makassar
Makassar, katakabar.com - Talenta digital mempresentasikan solusi AI untuk otomasi workflow UMKM dalam Mini Demo Day yang digelar Telkom AI Center Makassar lewat program AI Connect. Program AI Connect yang diinisiasi Telkom Indonesia melalui Telkom AI Center of Excellence gelar Mini Demo Day – AI Automation for SME pada Sabtu, 7 Maret 2026 di Telkom AI Center Makassar. Kegiatan ini menjadi wadah bagi developer muda, mahasiswa, dan talenta teknologi untuk mempresentasikan berbagai solusi berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dirancang untuk membantu meningkatkan efisiensi operasional usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Inisiatif ini dinilai relevan mengingat sektor UMKM merupakan tulang punggung perekonomian nasional. Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan jumlah UMKM di Indonesia telah mencapai lebih dari 64 juta unit usaha, atau sekitar 99 persen dari total unit usaha, dengan kontribusi lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) serta menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional. Kondisi ini mendorong kebutuhan akan inovasi teknologi yang dapat membantu UMKM meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional. Pada sesi Mini Demo Day, beberapa tim mempresentasikan proyek AI yang berfokus pada otomasi proses bisnis UMKM, di antaranya KasirTa' POS, sistem kasir pintar berbasis AI dengan fitur input suara, serta SmartBiz Blast AI, asisten pemasaran digital yang membantu menghitung profitabilitas produk sekaligus mengotomatisasi promosi. Selain itu, peserta juga menampilkan Laporin.AI yang mampu mengubah data mentah menjadi laporan bisnis secara otomatis, Mandja.bot sebagai chatbot layanan pelanggan berbasis web, U-Smart Apps untuk menghasilkan visual promosi produk secara otomatis melalui teknologi AI generatif, serta SAPI (Sistem Atur Penjualan & Inventory) yang membantu pengelolaan penjualan dan stok barang secara lebih terstruktur. Sesi demo menghadirkan Khairul Umam dari Inkubator Bisnis Kota Makassar dan Kholil Haq Al Hakim CTO GoDentist. Keduanya berperan sebagai judges yang memberikan feedback kepada peserta terkait pengembangan model bisnis, serta aspek teknologi dan implementasi Artificial Intelligence dari solusi yang dipresentasikan. Program Lead Telkom AI Connect, Mizan Lazuardi, pada sesi opening menyampaikan keynote pemanfaatan teknologi AI memiliki potensi besar dalam meningkatkan efisiensi operasional sekaligus membuka peluang inovasi baru bagi pelaku usaha. “Melalui program seperti ini, kami ingin membantu talenta digital tidak hanya mengembangkan teknologi, tetapi juga memahami bagaimana solusi AI tersebut dapat memberikan dampak nyata bagi bisnis dan memiliki model yang berkelanjutan,” kata Mizan. Salah satu peserta, Fachrul Muslihi, yang mengembangkan KasirTa' POS, menyampaikan kegiatan ini memberikan kesempatan bagi talenta teknologi untuk menguji sekaligus menyempurnakan solusi yang dikembangkan. “Melalui kegiatan ini kami mendapatkan banyak masukan dari praktisi industri, terutama terkait bagaimana solusi AI yang kami bangun dapat lebih relevan dengan kebutuhan pelaku usaha dan berpotensi untuk diterapkan atau mendapatkan usecase di Inkubator Bisnis Kota Makassar,” ulasnya. Melalui kegiatan ini, AI Center Makassar mendorong lahirnya inovasi AI yang tidak hanya berhenti sebagai prototipe, tetapi mampu berkembang menjadi solusi yang relevan bagi kebutuhan pelaku UMKM serta berpotensi diimplementasikan secara nyata di dunia usaha.
Krakatau IT Dukung Peningkatan Kompetensi Guru YPKS Lewat Pelatihan Pemanfaatan AI
Cilegon, katakabar.com - PT Krakatau Information Technology (Krakatau IT) sebagai narasumber usung tema seputar pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) pada Pelatihan Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) di Pembelajaran yang ditaja Yayasan Pendidikan Krakatau Steel (YPKS). Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bagian dari komitmen untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia di bidang pendidikan teknologi informasi. Program yang telah dilaksanakan pada akhir 2025 merupakan bagian dari serangkain Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dan diharapkan dapat terus berlanjut. Pelatihan ini bertujuan membekali para tenaga pendidik dengan pemahaman dan keterampilan dasar dalam penerapan teknologi kecerdasan buatan di dunia pendidikan. Melalui pelatihan ini, para guru di lingkungan YPKS diharapkan dapat mengintegrasikan teknologi AI dalam proses belajar-mengajar, sehingga pembelajaran menjadi lebih interaktif, efektif, dan relevan dengan tuntutan era industri 4.0. Direktur Utama Krakatau IT, Sugeng Pangraksa, menuturkan kegiatan ini merupakan langkah nyata perusahaan dalam mendukung pengembangan kapasitas tenaga pendidik, khususnya dalam menghadapi era digital. Menurutnya, pelatihan ini bukan sekadar kegiatan satu kali, melainkan bagian dari upaya berkelanjutan Krakatau IT dalam membangun ekosistem literasi digital di lingkungan pendidikan. “Kami berharap program ini dapat menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem pembelajaran berbasis teknologi di lingkungan YPKS. Ke depan, Krakatau IT juga membuka peluang kolaborasi lanjutan, baik dalam bentuk program pendampingan, pengembangan kurikulum digital, maupun implementasi platform pembelajaran berbasis teknologi,” ujar Sugeng. Sementara, Bendahara Yayasan Pendidikan Krakatau Steel (YPKS), Dian Bahtiar, mengapresiasi dukungan Krakatau IT dalam kegiatan ini. “Kami berterima kasih atas sinergi yang terjalin dengan Krakatau IT. Pelatihan ini menjadi langkah strategis bagi guru-guru kami untuk lebih siap menghadapi perubahan paradigma pembelajaran di era digital,” kata Dian. Sebagai bagian dari Krakatau Steel Group, Krakatau IT terus berperan aktif dukung penguatan literasi digital serta peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Kolaborasi dengan YPKS ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan perusahaan dalam menyiapkan generasi muda yang melek teknologi, kreatif, dan siap menjadi inovator dan pemimpin di era transformasi digital. Program tersebut bagian dari Asta Cita Presiden RI, H Prabowo Subianto untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat. PT Krakatau Information Technology (Krakatau IT) anak perusahaan dari PT Krakatau Steel (Persero) Tbk yang dipimpin Dr. Akbar Djohan selaku Direktur Utama, sekaligus Chairman ALFI/ILFA (Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia) serta Chairman IISIA (Indonesia Iron dan Steel Industry Association).
AI Kini Jadi Penentu Awal Pilihan Konsumen, Brand Berisiko Tersaring dari Persaingan
Jakarta, katakabar.com - AI kini berfungsi sebagai gerbang awal persaingan brand dengan menyaring dan merekomendasikan hanya beberapa nama yang dianggap paling kredibel. Dengan meningkatnya adopsi dan kepercayaan terhadap AI secara global, brand yang tidak membangun otoritas digital berisiko tersaring dari consideration set sejak tahap awal pengambilan keputusan konsumen. Peran kecerdasan buatan (AI) dalam proses pengambilan keputusan konsumen kini berkembang jauh melampaui fungsi pencarian informasi. AI mulai berperan sebagai “penjaga gerbang” yang menentukan brand mana yang masuk dalam daftar pertimbangan awal sebelum konsumen melakukan evaluasi lebih lanjut. Saat pengguna bertanya kepada sistem, seperti AI Overviews atau ChatGPT, mengenai rekomendasi produk, layanan, atau solusi tertentu, AI tidak menampilkan seluruh pemain di pasar. Sistem tersebut menyaring sejumlah brand yang dinilai paling relevan dan kredibel, lalu merangkumnya menjadi jawaban instan. Perubahan ini terjadi di tengah meningkatnya adopsi dan kepercayaan terhadap AI secara global. Survei internasional yang melibatkan lebih dari 48.000 responden di 47 negara menunjukkan bahwa sekitar dua per tiga responden kini menggunakan AI secara rutin, dan 83% percaya bahwa AI akan memberikan manfaat dalam kehidupan mereka, termasuk dalam membantu pengambilan keputusan. Di sisi korporasi, laporan global menunjukkan lebih dari 70 persen organisasi telah mengintegrasikan AI dalam berbagai fungsi bisnis, seperti pemasaran, analitik, dan pengambilan keputusan strategis. Artinya, AI tidak lagi menjadi eksperimen teknologi, melainkan telah menjadi infrastruktur kompetitif di berbagai industri. Pada konteks ini, AI tidak hanya memfasilitasi pencarian, tetapi membentuk persepsi awal konsumen terhadap brand. Jika sebuah brand tidak disebut dalam jawaban AI, maka ia berpotensi tidak dipertimbangkan sejak awal. “Masalahnya bukan lagi soal ditemukan atau tidak. Masalahnya sekarang siapa yang masuk ke daftar pilihan awal yang disaring oleh AI. Kalau tidak masuk, brand praktis tidak ikut dipertimbangkan,” ujar Alexandro Wibowo, Co-Founder Avonetiq, sebuah Digital Authority Firm yang berfokus pada penguatan otoritas digital brand di era AI. Menurut Alexandro, sistem AI bekerja dengan logika seleksi yang berbeda dari mesin pencari tradisional. AI mengumpulkan berbagai sumber informasi, mengevaluasi konsistensi narasi, reputasi digital, serta validasi eksternal, lalu merangkum brand yang dianggap paling layak direkomendasikan. Penelitian McKinsey dan Company tentang bagaimana kecerdasan buatan mampu mendorong produktivitas dan inovasi juga menunjukkan meskipun mayoritas perusahaan mulai merangkul penggunaan AI, hanya sebagian kecil yang benar-benar mampu mengekstraksi nilai strategis secara menyeluruh. Hal ini mengindikasikan adanya kesenjangan kompetitif antara brand yang sekadar menggunakan kecerdasan buatan dengan brand yang memahami cara membangun posisi dalam ekosistem AI. Fenomena ini berpotensi menciptakan efek konsentrasi di berbagai industri. Akibatnya, hanya segelintir brand yang terus disebut dan diperkuat oleh sistem AI, sementara lainnya semakin jarang terlihat. “AI sekarang berperan seperti asisten pribadi konsumen. Dan asisten ini tidak menampilkan semua opsi, hanya yang dianggap paling kredibel dan relevan. Kalau brand tidak membangun fondasi otoritas digitalnya, AI tidak punya alasan untuk menyebutnya,” jelas Alexandro. Perusahaan yang tidak menyesuaikan strategi visibilitasnya berisiko mengalami erosi daya saing secara perlahan. Bukan karena produknya tidak kompetitif, melainkan karena tidak masuk dalam radar sistem yang kini menjadi perantara utama antara brand dan konsumen. Di era AI, persaingan tidak lagi dimulai ketika konsumen membuka website atau marketplace. Persaingan sudah dimulai pada tahap yang lebih awal, di algoritma yang menentukan siapa yang layak direkomendasikan.
Open Networks dan AI Dorong Transformasi Digital Global South
New Delhi, katakabar.com - Open network dan kecerdasan artifisial (AI) dinilai menjadi fondasi baru bagi transformasi ekonomi digital di negara-negara Global South. Hal ini mengemuka dalam panel How Open Networks Are Transforming the Global South pada ajang India AI Impact Summit 2026 di New Delhi, Jumat (20/2) kemarin. Panel menghadirkan Aniket Doegar (Founder & CEO Haqdarshak) sebagai pembuka, T Koshy (Founding MD & CEO ONDC) sebagai pembicara kunci, serta dimoderatori Savita Muley (CTO Haqdarshak). Diskusi juga diikuti Sujith Nair (CEO Beckn Labs & CO-Founder Networks for Humanity), Shamina Singh (Founder & President Mastercard Center for Inclusive Growth), dan Sachin Gopalan (Founder & CEO Indonesia Economic Forum). Founder & CEO Haqdarshak, Aniket Doegar, menekankan transformasi digital harus dimulai dari akses yang bermakna. “Akses bukan sekadar soal ketersediaan. Yang lebih penting adalah kepercayaan dan rasa memiliki kendali. Tanpa itu, masyarakat tidak benar-benar bisa merasakan manfaat ekonomi digital,” ujarnya. Ia menjelaskan open network membuka ruang partisipasi yang lebih setara. “Open network memindahkan kekuatan dari sistem tertutup menuju infrastruktur bersama, sehingga warga tidak terkunci pada satu platform dan tetap memiliki pilihan serta martabat dalam bertransaksi," jelasnya. Dalam keynote, T Koshy, menegaskan open network adalah keputusan tata kelola, “Ini bukan hanya pilihan teknologi, melainkan pilihan tata kelola. Kita memilih memisahkan infrastruktur dari inovasi agar lebih banyak pihak bisa berpartisipasi,” ucap Koshy. Menurutnya, open network merancang ulang cara pasar bekerja. “Open network tidak menggantikan pasar, tetapi merancang ulang pasar. Dengan rel interoperabel yang sama, pelaku usaha kecil bisa masuk tanpa hambatan besar," timpalnya. Ia juga mengingatkan agar AI tidak menciptakan konsentrasi kekuasaan baru. “Pertanyaan terpenting bukan apakah kita bisa membangun sistem yang canggih, tetapi siapa yang diuntungkan, siapa yang mengendalikan, dan siapa yang tertinggal," imbuhnya. Sementara, CEO Beckn Labs, Sujith Nair, menyebut open network menempatkan manusia sebagai pusat, “Jaringan terbuka menempatkan orang dan pelaku usaha di pusat, memberi mereka pilihan dan kendali,” kupasnya. Menurutnya, AI berfungsi menyederhanakan kompleksitas teknis. “Peran AI adalah menyembunyikan kerumitan di belakang layar. Pengguna tidak perlu memahami detail teknis, yang penting mereka bisa mendapatkan harga lebih baik dan peluang pasar lebih luas," ulasnya. Ia menambahkan arsitektur terdesentralisasi mencegah penumpukan kekuatan di satu titik. Data Harus Melindungi dan Memberdayakan Dari perspektif global, Shamina Singh menekankan pentingnya prinsip pengelolaan data, “Data harus dimiliki oleh konsumen, memberi manfaat bagi konsumen, dan menjadi tanggung jawab kita untuk melindunginya,” kata Shamina. Menurutnya, AI hanya bermakna jika berdampak nyata pada kehidupan masyarakat. “AI harus memberi manfaat bagi manusia dan menjaga martabat mereka, bukan sekadar menjadi simbol kecanggihan teknologi," bebernya. Founder & CEO Indonesia Economic Forum, Sachin Gopalan, menjelaskan Indonesia mengadopsi pendekatan open network karena kebutuhan nyata di lapangan. “Ini lahir dari kebutuhan. Tantangan UMKM, koperasi, dan pasar tradisional menunjukkan bahwa interoperabilitas adalah solusi yang relevan,” kata Sachin. Ia optimistis kombinasi open network dan AI dapat membuka potensi generasi muda. “AI bukan untuk menggantikan manusia, tetapi untuk membebaskan potensi manusia, terutama di desa dan kota kecil," paparnya. Panel ini menegaskan masa depan ekonomi digital Global South tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh komitmen membangun sistem yang terbuka, adil, dan inklusif. Open network dan AI diposisikan sebagai instrumen untuk memperluas partisipasi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Lintasarta Perkuat Solusi AI Terintegrasi Jawab Tantangan Implementasi Industri
Jakarta, katakabar.com - Seiring meningkatnya adopsi kecerdasan buatan (AI) di berbagai sektor, banyak perusahaan menghadapi tantangan nyata guna integrasikan solusi AI ke dalam sistem operasional mereka. Kompleksitas integrasi, keterbatasan infrastruktur, proses implementasi yang memakan waktu, hingga kebutuhan keamanan dan kedaulatan data menjadi tantangan utama dalam mempercepat adopsi teknologi. Menjawab kebutuhan tersebut, Lintasarta menegaskan komitmennya sebagai penyedia solusi digital terintegrasi yang berfokus pada kebutuhan industri, bukan sekedar penyedia platform. Tantangan Nyata Industri Banyak perusahaan telah memiliki strategi AI, tetapi pada saat implementasi sering menghadapi hambatan integrasi dengan sistem existing, integrasi dengan ekosistem AI, keterbatasan infrastruktur, serta proses procurement yang panjang sebelum solusi dapat digunakan secara operasional. “Indonesia memiliki fondasi inovasi AI yang sangat kuat. Namun agar dampaknya optimal, dibutuhkan wadah yang mampu mengintegrasikan solusi, memperkuat kolaborasi antar pelaku ekosistem, memastikan keamanan data, serta mempercepat implementasi secara terukur. AI marketspace menjadi katalis dan memungkinkan seluruh proses tersebut berjalan lebih sederhana dan efisien,” kata Head of Industry Solution Lintasarta, Nurendrantoro. Menurutnya, model AI marketspace memungkinkan solusi diintegrasikan, diimplementasikan, dan diskalakan dalam satu ekosistem yang terstandardisasi dan aman, sehingga industri dapat mengurangi kompleksitas teknis sekaligus mempercepat time-to-value. AI Marketspace Kendaraan Integrasi Solusi Basis 4C AI Marketspace dirancang sebagai kendaraan strategis untuk mengintegrasikan solusi digital dan AI secara lebih terstruktur dan terukur, mulai dari pemetaan tantangan hingga implementasi use case yang relevan. Pendekatan ini dibangun di atas fondasi 4C Lintasarta Connectivity untuk keandalan sistem, Cloud untuk skalabilitas infrastruktur, Cybersecurity untuk keamanan dan kepatuhan data, serta Collaboration untuk orkestrasi ekosistem sehingga solusi dapat diintegrasikan, diimplementasikan, dan dikembangkan secara lebih cepat, aman, dan terstandardisasi. Sebagai implementasinya, Lintasarta menghadirkan Lintasarta AI Marketspace Universe (LAMPU) sebagai kendaraan untuk mengorkestasri berbagai solusi digital dan AI seperti Software as a Service (SaaS), Compute Services, Application Programming Interface (API) Services, data services, cybersecurity, connectivity, hingga AI dan analytics. Melalui pendekatan ini, fokus utama tetap pada penyediaan solusi yang relevan dan berdampak nyata bagi kebutuhan bisnis industri melalui kapabilitas 4C Lintasarta. Indonesia memiliki fondasi kuat untuk menjadi kekuatan AI regional, didukung pertumbuhan ekonomi digital, penetrasi teknologi, hingga talenta yang terus berkembang. Dengan pendekatan AI marketspace, Lintasarta menghadirkan fondasi strategis untuk mempercepat akselerasi AI nasional dan sebagai enabler dan ecosystem builder dalam perjalanan AI nasional menuju visi Indonesia Emas 2045. Berbagai informasi terbaru dan produk unggulan Lintasarta dapat diakses melalui Instagram @lintasarta.official, LinkedIn Lintasarta, serta situs resmi www.lintasarta.net.
Memajukan Masa Depan AI Inklusif bagi Global South
Oleh: Sandeep Chakravorty, Duta Besar India untuk Indonesia Jakarta, katakabar.com - India akan menjadi tuan rumah Global AI Impact Summit 2026 di New Delhi pada 16 hingga 20 Februari 2026. KTT ini akan mempertemukan lebih dari 100 negara dan organisasi internasional, dengan tujuh kelompok kerja khusus, atau “Chakras,” yang diketuai bersama oleh India dan dua negara lainnya, untuk merumuskan hasil yang relevan bagi Global North maupun Global South. Melalui sidang pleno para pemimpin, forum diskusi CEO, tantangan inovasi pemuda, serta simposium riset berdampak tinggi, tujuan KTT ini adalah membangun visi bersama bahwa masa depan kecerdasan buatan harus bersifat inklusif, transparan, dan dikelola melalui tata kelola kolaboratif. Kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan dapat mendorong dampak nyata dan dapat ditingkatkan skalanya dalam berbagai bidang, mulai dari prediksi pandemi hingga efisiensi pertanian, pemantauan iklim, serta peningkatan keterampilan digital bagi komunitas yang kurang terlayani. Indonesia memainkan peran aktif dalam membentuk hasil nyata dari KTT ini, yang dapat berkontribusi pada pengembangan solusi berbasis AI yang berpusat pada manusia dan berlandaskan etika. Dalam beberapa pekan terakhir, Indonesia, bersama Belanda, telah memberikan kontribusi signifikan dalam Kelompok Kerja “AI untuk Pertumbuhan Ekonomi dan Kebaikan Sosial.” Mengingat banyaknya kesamaan pendekatan India dan Indonesia dalam membangun ekosistem AI yang human-centric, partisipasi aktif Indonesia, baik dalam proses pembentukan hasil KTT maupun dalam pelaksanaan KTT itu sendiri, akan memberikan manfaat besar bagi Global South secara keseluruhan. Strategi AI Nasional Indonesia (Stranas KA), sejalan dengan visi AI yang berpusat pada manusia dan beretika. Visi jangka panjang menuju tahun 2045 menekankan pengembangan talenta serta penerapan AI secara terarah di sektor-sektor prioritas seperti kesehatan, pertanian, dan layanan publik. Hal ini menunjukkan komitmen kuat Indonesia dalam menerjemahkan inovasi menjadi nilai sosial yang nyata. Pengalaman Indonesia dalam membangun “Sahabat,” sebuah ekosistem model bahasa besar (Large Language Model/LLM) yang dirancang untuk beroperasi dalam Bahasa Indonesia dan berbagai bahasa daerah lainnya, merupakan upaya pionir yang patut dibagikan untuk direplikasi secara global. Indonesia juga melakukan investasi penting dalam kapasitas GPU (graphics processing unit) serta pusat data. Berdasarkan Stanford AI Index Report 2025 dan sumber lainnya, Indonesia termasuk dalam 10 negara teratas dalam pertumbuhan talenta AI, dengan peningkatan konsentrasi talenta AI hampir 200 persen antara tahun 2016 hingga 2024. Hal yang menggembirakan adalah Indonesia termasuk negara paling optimistis di dunia terhadap AI, dengan 80 persen penduduk memandang AI sebagai sesuatu yang bermanfaat. Indonesia juga diakui sebagai pemimpin regional di Asia Tenggara dalam hal adopsi AI. Pendekatan India terhadap AI tidak terbatas pada kemajuan teknis dan keuntungan ekonomi semata. India menargetkan dampak sosial-ekonomi yang nyata, dengan memanfaatkan AI untuk meningkatkan layanan kesehatan, mengoptimalkan pertanian, mentransformasi pendidikan, serta memperkuat ketahanan iklim. Ambisi India adalah memberdayakan setiap warga negara dan mendorong pembangunan yang berkelanjutan serta inklusif, khususnya bagi Global South. Laporan Stanford menempatkan India pada posisi ketiga secara global dalam hal daya saing AI. Peringkat ini menyoroti pertumbuhan pesat India dalam lanskap AI global. Laporan tersebut mengukur pertumbuhan dan inovasi AI dari tahun 2017 hingga 2024, yang mencerminkan meningkatnya talenta AI India, kapabilitas riset yang kuat, ekosistem startup yang dinamis, investasi dan dampak ekonomi, infrastruktur, serta kebijakan dan tata kelola. Berlandaskan visi “Making AI in India and Making AI Work for India,” India meluncurkan IndiaAI Mission pada Maret 2024, dengan alokasi anggaran sekitar US$100 miliar selama lima tahun. Misi ini menjadi langkah penting dalam menjadikan India pemimpin global dalam kecerdasan buatan. Sejak diluncurkan, misi ini telah menunjukkan kemajuan besar dalam memperluas infrastruktur komputasi nasional. Dari target awal 10.000 GPU, India kini telah mencapai 38.000 GPU, sehingga menyediakan akses terjangkau terhadap sumber daya AI berkelas dunia. GPU tersebut tersedia bagi para pengembang aplikasi dengan tarif bersubsidi, yaitu kurang dari satu dolar per jam. Salah satu pilar IndiaAI Mission, yakni “AIKosh,” mengembangkan kumpulan data besar untuk melatih model AI. Platform ini mengintegrasikan data dari sumber pemerintah maupun nonpemerintah. AIKosh memiliki lebih dari 5.500 dataset serta 251 model AI dan teknologi bahasa yang mencakup 20 sektor. Melalui inisiatif seperti BHASHINI dan BharatGen, India mendemokratisasi akses terhadap alat AI multibahasa. India dan Indonesia memiliki pendekatan bersama terhadap AI yang inklusif, yang didasarkan pada keyakinan kuat bahwa teknologi harus meningkatkan kualitas hidup dan memperluas peluang. AI tidak dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai penggerak pembangunan yang sejalan dengan visi Viksit Bharat atau India Maju 2047 dan Indonesia Emas 2045. Dengan skala besar, demografi muda, serta ekosistem inovasi yang terus berkembang, kedua negara berada pada posisi yang kuat untuk menjadi pemimpin regional dalam AI yang bertanggung jawab. Kedua negara kita juga menyadari bahwa keberagaman dan keseimbangan gender dalam ekosistem AI bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan strategis. Bias dalam data akan menghasilkan bias dalam hasil. Inklusi dalam desain menentukan inklusi dalam dampak. Hal ini juga memperkuat alasan untuk mengembangkan bersama model AI multibahasa serta sumber daya bahasa yang dikembangkan secara lokal guna mengurangi bias data dan memastikan relevansi kontekstual bagi masyarakat Global South. Patut dicatat bahwa Stranas KA dan kerangka etika AI Indonesia menekankan kepercayaan, transparansi, pengembangan talenta, serta akuntabilitas dalam mengintegrasikan AI ke sektor-sektor prioritas nasional. Berdasarkan Indeks Kesiapan AI IMF, muncul alasan kuat bagi terbentuknya aliansi AI antara India dan Indonesia, karena skor masing-masing negara menunjukkan “kekuatan” institusional yang saling melengkapi. Kekuatan India terletak pada skala, keterampilan STEM, Digital Public Infrastructure (DPI, India Stack), riset dan pengembangan (volume paten AI yang tinggi), perusahaan teknologi besar, serta investasi asing yang signifikan di sektor ini. Sementara, Indonesia memiliki skor yang kuat dalam kesiapan infrastruktur, regulasi dan etika, serta konektivitas telekomunikasi. Dengan menyelaraskan kerangka regulasi dan kebijakan, dua raksasa Asia ini dapat mencegah Global South menjadi “lahan uji coba” bagi model bisnis pihak lain yang bersifat oportunistik, sekaligus menetapkan standar yang adil dan berpusat pada manusia sesuai semangat “AI untuk Semua.” Bidang kerja sama lain yang layak dipertimbangkan adalah investasi kolaboratif serta pengembangan bersama pusat data dan kapasitas pemrosesan, yang juga dapat berguna secara strategis. Isu-isu tersebut menjadi inti pembahasan dalam acara pra-KTT Global AI Impact Summit yang diselenggarakan di Jakarta. Diskusi tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada langkah-langkah konkret untuk membangun ekosistem AI yang inklusif dan berkelanjutan menjelang Global AI Impact Summit 2026. Bagi negara seperti India dan Indonesia, pertanyaan seputar AI bukanlah hal yang abstrak atau jauh. Isu ini bersifat segera, berdampak besar, dan sangat terkait dengan jalur pembangunan nasional. Dengan populasi yang besar dan beragam, sistem pemerintahan demokratis, keragaman bahasa, serta prioritas pembangunan yang masih terus berkembang, pilihan yang kita ambil terkait AI akan membentuk tidak hanya hasil nasional tetapi juga norma global tentang bagaimana AI dikelola, diterapkan, dan dialami. Sebagaimana disampaikan oleh Wakil Menteri Nezar Patria dalam acara pra-KTT, kemitraan antara Indonesia dan India dapat menghadirkan peluang besar bagi pengembangan kecerdasan buatan yang berorientasi pada kepentingan Global South secara lebih luas, serta membentuk wacana masa depannya melalui pendekatan yang berpusat pada manusia. Secara keseluruhan, diskusi pra-KTT menegaskan perlunya pergeseran dari strategi menuju implementasi, dengan kerja sama Selatan–Selatan muncul sebagai jalur utama menuju AI yang inklusif dan akuntabel. Hanya melalui aksi kolektif kesenjangan AI dapat dijembatani. India tetap berkomitmen kuat untuk memajukan AI yang inklusif dan dapat ditingkatkan skalanya, serta siap bermitra dan menciptakan solusi bersama.
AI Ubah Cara Brand Terlihat, Avonetiq Perkenalkan Strategi Baru
Jakarta, katakabar.com - Cara konsumen mencari informasi kini mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya orang mengandalkan mesin pencari untuk menemukan informasi, kini semakin banyak pengguna yang langsung mendapatkan jawaban dari teknologi kecerdasan buatan (AI), seperti fitur AI Overviews di Google maupun asisten AI generatif seperti ChatGPT. Dalam laporan kinerja Google, Sundar Pichai, CEO Google, menyatakan bahwa “AI Overviews kini digunakan oleh sekitar dua miliar pengguna setiap bulan secara global,” menandai meningkatnya peran AI dalam cara konsumen mencari dan menerima informasi. Di era AI ini, brand tidak lagi cukup hanya berupaya untuk ditemukan, tetapi harus mampu dipilih dan disebut oleh AI sebagai sumber jawaban. Pergeseran dari search engine ke answer engine ini menciptakan risiko baru bagi brand, yaitu tidak terlihat dalam jawaban AI meskipun telah aktif secara digital. Kondisi ini berpotensi membuat brand kehilangan relevansi di momen paling krusial, yaitu saat audiens mencari jawaban atas kebutuhannya. Menjawab tantangan tersebut, muncul strategi baru bernama AI Visibility Optimization (AVO), sebuah pendekatan untuk membangun otoritas, kredibilitas, dan konteks digital agar brand dapat dikenali dan dipercaya oleh sistem AI sebagai sumber jawaban yang layak dikutip. Melalui AVO, brand tidak hanya dioptimalkan untuk mesin pencari, tetapi juga untuk AI search yang dihasilkan Chat GPT, Gemini, Perplexity, dan teknologi sejenis. Di Indonesia, pendekatan AVO pertama kali dikembangkan dan diperkenalkan oleh Alexandro Wibowo dan Ryan Gondokusumo, Co-Founder & Managing Partner dari Avonetiq, sebuah Digital Authority Firm yang berfokus pada penguatan otoritas digital brand di era AI. Avonetiq menjalankan strategi AI Visibility Optimization (AVO) melalui metode OMG (Optimize, Manifest, dan Generative) yang dicetuskan oleh Alexandro Wibowo. Metode ini dirancang untuk memastikan brand tidak hanya hadir secara digital, tetapi juga memiliki fondasi teknis, kejelasan narasi, serta validasi eksternal yang dapat dibaca dan dipercaya oleh sistem AI. “Di era answer engine, brand nggak cuma butuh konten atau eksistensi digital. Yang dibutuhkan sekarang sistem agar AI menganggapnya layak untuk dijadikan jawaban,” ujar Alex. Menurut Alexandro, AVO dirancang untuk memastikan brand tidak hanya hadir secara digital, tetapi juga memiliki struktur bukti, narasi, dan sinyal kepercayaan yang membuat AI memilih brand tersebut sebagai rujukan utama. “Ketika AI menjadi perantara utama antara brand dan audiens, membangun authority bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan,” jelasnya.
Kedubes India Dorong Kolaborasi AI Inklusif India–Indonesia Lewat AI Pre-Summit 2026
Jakarta, katakabar.com - Kedutaan Besar India di Jakarta, bekerja sama dengan MicroSave Consulting (MSC), India Indonesia Chamber of Commerce (IndCham), serta Women Entrepreneurship Platform (WEP) di bawah NITI Aayog, gelar acara resmi Pra-KTT AI Impact Summit 2026 bertajuk People, Planet, Progress: Dialog India–Indonesia tentang AI Inklusif di Le Meridien Jakarta, Rabu (21/1) lalu. Forum ini mempertemukan pejabat pemerintah senior, pemimpin industri, mitra pembangunan global, serta pakar teknologi dari India dan Indonesia untuk memperdalam kerja sama dalam pengembangan kecerdasan buatan yang bertanggung jawab, berpusat pada manusia, dan berlandaskan tata kelola etis. Duta Besar India untuk Indonesia menegaskan peran strategis kecerdasan buatan dalam mendorong kemaslahatan sosial dan pembangunan berkelanjutan. “Kecerdasan buatan memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas layanan publik, memperluas inklusi keuangan, serta memperkuat sistem perlindungan sosial berbasis kebutuhan. Tantangan kita bersama adalah memastikan bahwa AI benar-benar melayani masyarakat,” ujar Duta Besar India. Indonesia dan India saat ini bekerja sama erat, termasuk melalui peran Indonesia sebagai negara ketua bersama dalam kelompok kerja AI untuk Pertumbuhan Ekonomi dan Kemaslahatan Sosial. Dialog di Jakarta ini menjadi pondasi penting menuju AI Impact Summit 2026 yang akan diselenggarakan di New Delhi pada 19 hingga 20 Februari 2026 di bawah koordinasi Kementerian Elektronika dan Teknologi Informasi India. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Indonesia (Komdigi), Nezar Patria, menyoroti besarnya peluang yang muncul dari pertumbuhan ekonomi digital kedua negara. “Ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar 330 miliar dolar AS pada 2030, sementara ekonomi digital India berada pada jalur menuju 1 triliun dolar AS. Pertumbuhan paralel ini membuka peluang strategis untuk memanfaatkan AI dalam menjawab tantangan publik, mulai dari inklusi keuangan hingga ketahanan iklim,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya penguatan komitmen terhadap konsep Sovereign AI di tengah dinamika geopolitik global. “Kemampuan negara untuk membangun, mengatur, dan menerapkan AI dengan memanfaatkan data, talenta, dan infrastrukturnya sendiri merupakan kunci dalam menjaga kedaulatan digital,” tambahnya. Diskusi juga menyoroti pentingnya pendekatan menyeluruh terhadap pengembangan AI, termasuk aspek perangkat keras dan rantai pasok semikonduktor. “Indonesia dengan kekayaan sumber daya mineralnya, dan India dengan misi semikonduktornya yang ambisius, berada pada posisi yang unik untuk membangun rantai pasok teknologi yang terintegrasi dan tangguh,” kata Nezar. Ia menegaskan kolaborasi ini penting agar negara-negara Global South tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga produsen dan inovator teknologi dasar abad ke 21. AI Impact Summit 2026 Fokus Dampak Nyata Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menegaskan AI Impact Summit 2026 di India akan menempatkan dampak nyata sebagai fokus utama. “Forum ini tidak hanya akan membahas bagaimana memanfaatkan AI, tetapi bagaimana AI dapat secara konkret meningkatkan kualitas hidup dan menjembatani kesenjangan sosial dan ekonomi. Tantangan terbesar pengembangan AI saat ini adalah memastikan inklusivitas,” ucapnya. Ia menambahkan posisi India sebagai representasi Global South memungkinkan terjadinya pembelajaran multidimensi antarnegara, termasuk dari pengalaman Indonesia. President Director dan CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha, menekankan pentingnya kolaborasi lintas industri dalam menerjemahkan visi kebijakan AI menjadi dampak ekonomi yang nyata. “Interoperabilitas sistem AI, kemitraan bisnis India dan Indonesia, serta penguatan ekosistem startup dan UMKM merupakan fondasi agar AI tidak berhenti pada inovasi teknologi, tetapi benar-benar mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berdaya saing,” tuturnya. Sementara, Programme Director dan Mission Director Women Entrepreneurship Platform, Anna Roy, menyoroti komitmen India mendorong inovasi AI yang dipimpin oleh perempuan. “Ekosistem AI yang inklusif harus menjamin akses yang setara terhadap keterampilan, perangkat, dan peluang bagi perempuan serta inovator muda di kawasan,” jelasnya. Acara ini juga menghadirkan diskusi panel strategis yang melibatkan pembuat kebijakan, sektor swasta, lembaga filantropi, dan organisasi pembangunan multilateral. Panel membahas penguatan kerja sama Selatan–Selatan, interoperabilitas data, digital public goods, serta peran AI dalam pemberdayaan tenaga kerja dan UMKM. Direktur Infrastruktur, Ekosistem, dan Keamanan Digital Kementerian PPN Bappenas, Andianto Haryoko, menegaskan AI dan transformasi digital merupakan pilar penting pembangunan jangka menengah dan panjang Indonesia. “AI harus mendorong transformasi ekonomi dan memperkuat layanan publik, dengan memastikan manfaatnya dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk perempuan, pekerja informal, dan UMKM,” tukasnya. Acara ditutup dengan sambutan penutup dari Grace Retnowati, Partner dan Country Head MSC Southeast Asia, yang menegaskan komitmen MSC dalam mendorong pengembangan AI yang berpusat pada manusia di kawasan Asia Tenggara. “Nilai sejati AI terletak pada kemampuannya menjunjung martabat manusia, memperluas kesempatan, dan memberdayakan komunitas. Kami akan terus berkolaborasi dengan pemerintah dan industri untuk memastikan sistem AI dirancang secara bertanggung jawab dan dapat diakses secara luas,” terangnya. Melalui AI Pre-Summit 2026 ini, India dan Indonesia menegaskan kembali komitmen bersama untuk membangun ekosistem kecerdasan buatan yang inklusif, etis, dan berdampak nyata, sejalan dengan aspirasi negara-negara Global South dan prinsip people, planet, dan progress.