Adat
Sorotan terbaru dari Tag # Adat
Menjaga Marwah Melayu di Tengah Globalisasi, Adat Jadi Benteng Etika Sosial dan Politik di Tanah Jantan
Oleh: Humas LAMR Kepulauan Meranti, Ucok Alexander Kepulauan Meranti, katakabar.com - Di tengah derasnya arus globalisasi yang kerap menggerus identitas budaya lokal, masyarakat Melayu di 'Tanah Jantan' sebutan lain dari Kabupaten Kepulauan Meranti tetap menjadikan adat istiadat sebagai benteng utama menjaga marwah dan jati diri. Bagi masyarakat setempat, adat bukan sekadar simbol seremonial, melainkan pedoman hidup yang mengatur etika sosial, tata pergaulan, hingga nilai-nilai politik. Falsafah hidup Melayu yang berbunyi “Adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah” masih dipegang kuat hingga kini. Prinsip tersebut menempatkan adat pada kedudukan tertinggi dalam kehidupan bermasyarakat, sekaligus menjadi fondasi moral dalam setiap aspek kehidupan. Tokoh-tokoh adat menilai, ketika adat mulai diabaikan, sendi-sendi kehidupan masyarakat akan rapuh. Politik kehilangan etika, hubungan sosial menjadi renggang, dan generasi muda berpotensi tercerabut dari akar budayanya sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Melayu Kepulauan Meranti dikenal menjunjung tinggi nilai sopan santun, musyawarah, dan kebersamaan. Hal ini tercermin dalam pepatah Melayu, “Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing,” yang menggambarkan semangat solidaritas dan gotong royong. Nilai-nilai adat tersebut juga menjadi rujukan dalam etika kepemimpinan. Dalam budaya Melayu, seorang pemimpin tidak dinilai dari jabatan semata, melainkan dari budi pekerti dan moralitasnya. Pepatah “Tinggi tampuk kerana sirih, tinggi adat kerana budi” menegaskan jabatan adalah amanah, sementara akhlak menjadi dasar kehormatan kepemimpinan. Selain itu, adat Melayu berperan sebagai filter terhadap pengaruh luar. Globalisasi dipandang sebagai keniscayaan, tetapi adat berfungsi sebagai penuntun agar modernisasi tidak mengikis nilai-nilai kemanusiaan. Masyarakat Melayu meyakini menjaga adat bukan berarti menolak kemajuan, melainkan memastikan pembangunan tetap berkeadilan dan memuliakan manusia. Dengan berlandaskan adat, pembangunan dan politik diharapkan tidak semata mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Prinsip adat diyakini mampu mencegah praktik politik yang hanya menguntungkan kelompok tertentu. Ungkapan Melayu yang sangat dikenal, “Biar mati anak, jangan mati adat,” kembali mengingatkan pentingnya menjaga warisan leluhur. Hilangnya adat dianggap sama dengan hilangnya jati diri, yang pada akhirnya membuat masyarakat kehilangan arah dalam menghadapi perubahan zaman. Tantangan ke depan adalah menanamkan kembali nilai-nilai adat kepada generasi muda Meranti. Pendidikan tidak hanya dituntut mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga berakar kuat pada kecerdasan budaya. Dengan demikian, adat istiadat tetap tegak, etika sosial tetap hidup, dan marwah Melayu terus terjaga di tengah gelombang globalisasi.
Kenduri Adat Sempena Hari Jadi ke 511 Bengkalis
Bengkalis, katakabar.com - Kenduri adat mengharap berkat untuk Bengkalis, 'Negeri Junjungan Bermasa' bertema 'Bersama Tegakkan Marwah, Negeri Maju Masyarakat Sejahtera' digelar di gedung LAMR Bengkalis, Ahad (30/7) sore. Kegiaatan itu diinisasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bengkalis bersama Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Bengkalis, sempena memperingati Hari Jadi ke 511 Bengkalis tahun 2023. Sebagai wujud rasa syukur serta doa kepada Allah Subahanahu Wa Taala, atas perjuangan dan pengorbanan yang telah diberikan para pahlawan pendahulu menjaga harkat dan martabat Bengkalis dari para penjajah. Kenduri adat ini diisi dengan tahlil, dan tahmid, serta disempurnakan dengan doa bersama untuk negeri. Lalu, di penghujung kenduri, tamu undangan disajikan dengan makanan adat hidangan khas Melayu. "Terima kasih dan selamat datang," kata Bupati Bengkalis, Kasmarni kepada tamu kehormatan yang hadir dalam majelis kenduri adat dibalai adat Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Bengkalis. "Kita semua, mari tingkatkan semangat persatuan dan persaudaraan. Siapa pun dan dari manapun asalnya, sebagai sesama anak negeri Bengkalis harus bersebati dan sehati, dan punya kewajiban, serta tanggung jawab yang sama menjaga marwah negeri ini," seru Kasmarni didampingi Wakil Bupati Bengkalis, Bagus Santoso. Tidak hanya itu tutur mangan Camat Pinggir ini, kita harus bahu membahu dan bergandeng tangan melanjutkan dan mempercepat keberhasilan pembangunan di negeri ini. Untuk itu imbau Bupati Perempuan Pertama di Riau, kepada seluruh elemen masyarakat Bengkalis bersama manfaatkan segala potensi keberagaman budaya, adat istiadat dan agama maupun SDM dan SDA yang ada di negeri ini untuk bersatu, serta bergerak bersama supaya terus berprestasi meningkatkan pembangunan di semua sektor kehidupan, sehingga masyarakat negeri ini dapat hidup lebih maju dan sejahtera baik lahir maupun bathin. "Kami yakini, bila seluruh anak negeri ini punya komitmen kerja bersama, tolong menolong tiada bersukat, duduk berdiri dalam mufakat, maka tak ada azam yang tidak dapat kita wujudkan, tak ada asa yang tidak dapat kita capai," tegasnya. Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAM Riau, Datuk Seri Taufik Ikram Jamil, Ketua Dewan Kehormatan Adat (DKA) LAMR Bengkalis, Bustami HY, Ketua MKA LAMR Bengkalis, Zainuddin Yusuf, Ketua DPH LAMR Bengkalis.m Sofyan Said dan sejumlah pengurus LAMR Kabupaten Bengkalis. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bengkalis,m Khairul Umam, anggota Forkopimda, Plt Sekdakab Bengkalis, Ersan Saputra, sejumlah Kepala Perangkat Daerah serta Camat se Kabupaten Bengkalis dan tamu kehormatan lainnya, turut hadir di perhelatan Kenduri Adat yang digelar di Gedung LAMR Bengkalis. (Inf)