Surabaya, katakabar.com - Munculnya berbagai tantangan merancang produk dan layanan yang benar-benar relevan dengan kebutuhan konsumen menjadi isu besar yang dihadapi oleh para wirausahawan muda saat ini.

Untuk menjawab tantangan ini, program Wirausaha Merdeka Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya gelar workshop usung tema ‘Design Thinking’, Jumat (11/10) di Southern Hotel, Surabaya.

Acara ini berkolaborasi dengan mentor industri, yakni Maxy Academy bertujuan untuk membekali para mahasiswa dengan keterampilan berpikir kritis dan inovatif dalam menghadapi permasalahan pelanggan.

Workshop ini dihadiri puluhan mahasiswa dari berbagai universitas di Surabaya, diantaranya Universitas Negeri Surabaya, dan Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya itu sendiri.

Dipandu Coach Andy F. Bintoro, Co-Founder dan CTO Maxy Academy, dan Coach Stefen Laksana, Manager Product and Delivery Maxy Academy, peserta diajak untuk memahami bagaimana metode Design Thinking dapat diterapkan dalam menciptakan solusi bisnis yang relevan.

Kegiatan ini bertujuan untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan berpikir kritis, inovatif, dan berbasis solusi, agar mereka mampu merespons tantangan yang ada di dunia kewirausahaan.

Mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini diajak untuk mempraktikkan penggunaan Value Proposition Canvas, serta alat seperti Test Card dan Learn Card yang membantu mereka menguji dan mengukur hipotesis mereka terhadap masalah dan solusi bisnis yang mereka rancang.

Salah satu sesi yang paling menarik adalah pembuatan elevator pitch, di mana para peserta diminta menyampaikan ide bisnis mereka dalam waktu singkat secara efektif dan menarik hingga merancang solusi berbasis Value Proposition Canvas yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Stefen menjelaskan, 'Design Thinking' sangat berkaitan dengan bagaimana wirausahawan melihat suatu masalah dan mendesain solusi atau konsep yang sesuai dengan masalah konsumen.

"Ini tantangan karena kita harus benar-benar tahu apakah konsumen mengalami kesulitan, dan hal itu seringkali membutuhkan survei untuk mengetahui fakta yang sebenarnya," kata Stefen.

Menurut Stefen, awalnya banyak mahasiswa yang belum familiar dengan metode ini.

“Dari awal, mereka masih belum mengetahui sama sekali. Setelah dijelaskan dan diberikan informasi mengenai program Wirausaha Merdeka (WMK), mahasiswa sangat antusias dan setidaknya memahami 50 persen hingga 60 persen dari awal 0 persen. Ini membuka pandangan mereka untuk tahu langkah selanjutnya yang harus dilakukan,” ucapnya.

Arika Amanda dan Amalia, peserta dari UNTAG, berbagi kesan mereka setelah mengikuti workshop ini.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk melatih kami berpikir kritis dan inovatif dalam memecahkan masalah konsumen. Kami juga belajar bagaimana menyusun rencana bisnis yang lebih terstruktur dengan Value Proposition Canvas, serta menganalisis data secara lebih mendalam,” tutur Arika.

Sedang Amalia menimpali, workshop ini sangat membantu mereka dalam merancang ide bisnis yang dapat diimplementasikan secara nyata.

Melalui program Wirausaha Merdeka ini, diharapkan mahasiswa dapat mengimplementasikan apa yang telah mereka pelajari, baik dalam dunia akademis maupun dunia usaha yang sesungguhnya.

“Harapan kami setelah mengikuti Wirausaha Merdeka adalah mahasiswa tidak hanya sekadar memiliki ide, tetapi juga mampu menerapkan dan mewujudkan ide tersebut menjadi solusi nyata di masyarakat,” jelas Stefen

Kontak: Sepriandi, Alferli Maxy Academy +628111025854