Deli Serdang, katakabar.com – Viral video warga korban banjir di Tapanuli Utara memungut beras yang berserakan di tanah setelah karung bantuan pecah usai dijatuhkan dari helikopter.

Insiden ini menuai kritik, termasuk dari Sekretaris DPC Peradi SAI Deli Serdang, Ahmad Fitrah Zauhari, S.H., yang menilai metode distribusi tersebut tidak layak dan perlu segera dievaluasi.

“Kami memahami situasi darurat, tetapi melempar bantuan dari helikopter hingga pecah jelas tidak sesuai standar kemanusiaan. Ini bukan hanya soal barang rusak, tapi juga martabat korban,” ujarnya.

Fitrah menegaskan bahwa kondisi darurat tidak boleh menjadi alasan mengabaikan keamanan logistik dan kenyamanan penerima bantuan. Ia menilai pemandangan korban memunguti beras dari tanah seharusnya tidak terjadi bila distribusi direncanakan dengan baik.

Respons Pemerintah

Ketua Harian Posko Darurat Bencana Sumut, Basarin Yunus, mengakui bantuan dijatuhkan dari helikopter karena akses darat terputus dan tidak semua lokasi punya helipad. Ia berjanji memperbaiki mekanisme agar kejadian serupa tidak terulang.

Dorongan Evaluasi dan Solusi

Ahmad Fitrah menekankan perlunya evaluasi nyata, bukan sekadar janji. Ia meminta pemerintah dan instansi terkait segera menyusun SOP distribusi udara yang aman dan sesuai standar internasional. Beberapa solusi yang ia sarankan:

Gunakan kontainer atau kemasan khusus air drop
Soft bag atau wadah berperedam, dilengkapi parasut kecil agar bantuan tidak pecah saat mendarat.

Penurunan bantuan dari ketinggian rendah
Helikopter turun lebih dekat ke permukaan dan bantuan diturunkan via tali sling, bukan dilempar.

Pemanfaatan drone kargo
Untuk mengirim paket sensitif seperti obat-obatan, susu bayi, hingga makanan siap saji ke area ekstrem.

Ia juga menekankan pentingnya koordinasi antara BPBD, TNI, Basarnas, dan relawan agar titik distribusi jelas dan aman sebelum bantuan dilepas.

Menurut Fitrah, penanganan bencana harus mengutamakan kecepatan sekaligus ketepatan, keamanan, dan martabat para korban. Kritiknya, tegasnya, bukan untuk menyalahkan pihak mana pun, melainkan mendorong perbaikan menyeluruh dalam mekanisme penanggulangan bencana.

“Setiap bantuan adalah wujud empati. Cara kita menyalurkannya harus mencerminkan kepedulian itu,” tutupnya.