Jakarta, katakabar.com - Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terus menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia, sumbang lebih dari 60 persen Produk Domestik Bruto atau PDB, dan serap lebih dari 97 persen tenaga kerja nasional (sumber: Kementerian Koperasi dan UKM, 2024).

Tapi, masih banyak UMKM yang menghadapi kendala besar untuk naik kelas dan menembus pasar ekspor. Hambatan seperti keterbatasan akses informasi, regulasi ekspor, hingga kemampuan branding produk menjadi tantangan nyata bagi pelaku UMKM.

Menjawab tantangan tersebut, Local Champion Indonesia atau LCI lewat program pendampingan, pelatihan, serta fasilitasi akses pasar internasional, Local Champion Indonesia berkomitmen memberikan solusi komprehensif untuk mengatasi berbagai permasalahan UMKM, terutama dalam ranah ekspor.

Sebagai bagian dari komitmen mendorong UMKM naik kelas dan menembus pasar global, LCI bersama PLN menggelar rangkaian pelatihan daring yang menghadirkan para praktisi dan akademisi berpengalaman di bidang ekspor.

Program ini dirancang untuk memberikan wawasan praktis sekaligus keterampilan teknis yang dapat langsung diaplikasikan oleh UMKM binaan dalam proses pengembangan usaha menuju pasar internasional.

Di program ini, tercatat sebanyak 88 UMKM binaan Rumah Badan Usaha Milik Negera atau BUMN ikut berpartisipasi aktif, menjadikan kegiatan ini sebagai langkah nyata dalam memperkuat kapasitas UMKM menuju level kompetensi global.

Pada sesi pertama, Dewi Harlas, Founder UKM Eksportir Indonesia, membagikan wawasan mengenai Kewirausahaan Ekspor. Ia menekankan salah satu hambatan utama UMKM Indonesia untuk masuk ke pasar global bukan hanya soal kualitas produk, melainkan juga kurangnya pemahaman tentang standar ekspor, regulasi, hingga strategi membangun jejaring internasional.

Menurut Dewi, banyak UMKM yang sudah memiliki produk unggulan dengan potensi besar, tapi terkendala pada aspek teknis seperti pengurusan dokumen, perhitungan harga ekspor, hingga ketidaksiapan menghadapi permintaan dalam skala besar.

“Permasalahan ekspor yang sering terjadi bukan karena produk kita kalah saing, melainkan karena pelaku UMKM belum sepenuhnya memahami tata cara dan strategi masuk ke pasar global,” kata Dewi.

Lebih jauh, Dewi juga berbagi kisah perjalanannya membangun usaha dari tahap awal hingga akhirnya berhasil menembus pasar internasional. Ia menceritakan bagaimana konsistensi, keberanian untuk belajar, dan kemampuan membangun relasi bisnis menjadi kunci keberhasilan ekspor. Pengalaman tersebut menjadi bukti nyata bahwa dengan strategi yang tepat, UMKM Indonesia memiliki peluang besar untuk bersaing di kancah global.

Sesi kedua diisi Tuhu Eko, Co-Founder UKM Eksportir Indonesia, yang membawakan materi teknis mengenai Tips Menghitung Harga Produk Ekspor pada Unit Kompetensi 2.

Materi ini menjadi sangat penting agar UMKM dapat menentukan harga jual produk yang kompetitif sekaligus menguntungkan, dengan mempertimbangkan faktor biaya produksi, logistik, hingga standar pasar internasional.Sesi kedua menghadirkan Tuhu Eko, Co-Founder UKM Eksportir Indonesia, yang membawakan materi teknis mengenai Tips Menghitung Harga Produk Ekspor pada Unit Kompetensi 2.

Kata Tuhu, salah satu persoalan mendasar yang sering dihadapi UMKM ketika mencoba masuk ke pasar global adalah ketidakmampuan menentukan harga produk yang tepat.

Banyak pelaku usaha hanya menambahkan margin sederhana di atas biaya produksi tanpa memperhitungkan faktor lain seperti biaya logistik, bea masuk, pajak, hingga standar kualitas yang berlaku di negara tujuan. Hal ini membuat harga produk ekspor dari UMKM Indonesia kerap tidak kompetitif, bahkan berisiko merugikan usaha itu sendiri.

“Kesalahan paling umum adalah UMKM terlalu fokus pada biaya produksi lokal, tanpa memperhitungkan variabel internasional. Akibatnya, produk kita bisa terlalu mahal dibanding pesaing, atau sebaliknya terlalu murah sehingga merugikan,” jelas Tuhu.

Di materinya, Tuhu memberikan simulasi perhitungan harga produk ekspor dengan mempertimbangkan semua komponen biaya, termasuk ongkos kirim internasional dan penyesuaian standar kualitas. Dengan metode yang tepat, UMKM tidak hanya mampu menentukan harga yang menguntungkan, tetapi juga memastikan produk mereka tetap kompetitif di pasar global.

Sesi ketiga ditutup oleh Samsi, S.E., seorang pendamping UMKM yang membawakan materi mengenai Pendampingan Rencana UMKM dan Pembuatan Laporan Penilaian Hasil Pendampingan pada Unit Kompetensi 2.

Dalam paparannya, Samsi menekankan bahwa salah satu tantangan besar UMKM dalam proses ekspor adalah minimnya perencanaan usaha yang matang serta kurangnya evaluasi berkelanjutan terhadap kinerja bisnis.

Banyak pelaku UMKM berfokus pada produksi dan penjualan jangka pendek, namun belum memiliki peta jalan (roadmap) yang jelas untuk mengembangkan usahanya secara berkelanjutan. Akibatnya, saat peluang ekspor datang, UMKM kerap tidak siap secara administrasi maupun strategi bisnis.

“Perencanaan yang terukur sangat penting agar UMKM tidak hanya siap menjual produk, tapi juga mampu menjaga konsistensi kualitas dan kuantitas ketika berhadapan dengan pasar global,” ujar Samsi.

Ia menekankan pentingnya membuat laporan penilaian hasil pendampingan sebagai instrumen untuk mengukur progres, mengidentifikasi kelemahan, dan merumuskan langkah strategis ke depan.

Melalui materi ini, ulasnya, para peserta dilatih untuk menyusun rencana usaha yang realistis namun ambisius, serta memahami bagaimana laporan penilaian bisa menjadi alat navigasi penting bagi UMKM untuk naik kelas. Dengan pendekatan pendampingan yang berkesinambungan, diharapkan UMKM binaan dapat lebih siap menghadapi tantangan ekspor sekaligus memanfaatkan peluang global secara maksimal.

“Melalui kolaborasi ini, Local Champion Indonesia bersama PLN berharap dapat memberikan bekal pengetahuan yang aplikatif bagi UMKM binaan, sekaligus memperkuat kesiapan mereka menghadapi tantangan ekspor. Dengan pendekatan praktis dan bimbingan dari para ahli, pelatihan ini diharapkan mampu mencetak lebih banyak UMKM yang berdaya saing dan siap membawa produk lokal Indonesia ke pasar global.” sebut Dhika Yudistira CEO/Founder LCI.