Tanjung Redeb, katakabar.com - Para petani lada pelan tapi pasti tinggalkan tanaman lada beralih ke tanaman kelapa sawit di Kabupaten Berau.

Kepala Dinas Perkebunan (Kadisbun) Kabupaten Berau, Lita Handini, mengakui animo dan minat masyarakat menjadi petani lada semakin menurun dan tidak sedikit petani beralih komoditas, yakni mulai menanam sawit lantaran dinilai lebih menjanjikan.

“Luas lahan petani lada ini memang semakin hari semakin menurun, sebab harga jual yang kurang bagus,” kata Lita, kepada wartawan, pada Selasa lalu, dilansir dari laman berauterkini.co.id, pada Kamis (1/2).

Nilai jual yang tidak kunjung normal, ujar Lita, salah satu penyebab utama masyarakat tidak segan-segan berpaling ke komoditas yang dinilai lebih menjanjikan.

“Sekarang ini harga jual lada cuman Rp50 rupiah hingga Rp90 rupiah per kilogram. Dibanding dulu, harganya bisa sampai Rp150 rupiah per kilogram. Memang, harga lada ini turun naik dan cenderung tidak stabil,” ulas Kadisbun Kabupaten Berau.

Selain harga yang tidak kunjung kembali normal, tutur Lita, serangan penyakit lada yang sulit untuk ditangani menjadi alasan petani enggan menanam lada.

“Belum lagi serangan penyakit, seperti penyakit busuk pangkal batang. Kalau sudah terkena itu, susah menanggulanginya,” jelasnya.

Diceritakannya, kalau terkena penyakit tersebut tanaman lada rentan untuk mati. Parahnya lagi, kalau sudah terkena satu, biasanya bakal menyebar ke tanaman lainnya.

"Bila terkena penyakir, cara penanganan tanaman yang terkena penyakit mesti dicabut hingga akarnya. Lalu, lubangnya dibakar dan ditutup lagi menggunakan tanah baru," terangnya.

Kebersihan lahan pertanian, ucapnya, menjadi salah faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman lada.

“Merawatnya ini memang rentan dan harus intens dan bila ada gejala harus langsung segera ditangani,” bebernya.

Kendati para petani beralih tanaman, Disbun Berau masih terus memberikan bantuan, berupa bibit, pupuk dan obat-obatan untuk tanaman mereka. Ini sebagai bentuk dukungan dan motivasi bagi para petani, meski tinggal beberapa saja yang masih bertahan.

Jadi kalau petani mengalami kendala, seperti tanaman yang terkena hama, mereka bisa menghubungi Disbun Berau melalui aplikasi ‘Si Lindung Tambun’ yang bisa diakses melalui WhatsApp.

“Mereka bisa menghubungi kami dari aplikasi tersebut yang bisa diakses melalui WhatsApp. Nanti admin menanggapi dan memberi edukasi serta solusi dari permasalahan tersebut,” imbuhnya.

Jika melalui pesan WhatsApp tidak mendapat respon, saran Lita, bisa langsung mendatangi kantor Disbun Berau yang berada di Jalan Dr Murjani I Nomor 82, Kelurahan Karang Ambun, Kecamatan Tanjung Redeb, Kabupaten Berau.

Saat ini, luas keseluruhan lahan pertanian lada di “Bumi Batiwakkal” tinggal 2.272 hektar tersebar di 13 kecamatan di Kabupaten Berau.

“Paling banyak dan luas ada di daerah Gunung Tabur, Sambaliung, Biatan, dan Tabalar,” tandasnya.