Jakarta, katakabar.com - Indonesia dan India menegaskan kembali komitmen mereka untuk memperkuat kerja sama bilateral sekaligus berperan aktif membentuk tatanan global yang lebih adil, inklusif, dan stabil. Hal ini mengemuka dalam seminar bertajuk “Indonesia and India’s Agency in a Shifting World Order” yang digelar CSIS Indonesia dan Gateway House, dengan menghadirkan berbagai tokoh kunci dari kedua negara.
Direktur Eksekutif CSIS Indonesia, Yose Rizal Damuri menekankan relevansi Bandung Spirit setelah tujuh dekade berlalu. Semangat kerja sama Selatan-Selatan yang lahir dari Konferensi Asia-Afrika 1955 menurutnya masih menjadi rujukan penting bagi negara-negara berkembang dalam menghadapi tantangan global masa kini.
Rajiv Bhatia, Distinguished Fellow untuk Studi Kebijakan Luar Negeri di Gateway House aminkan Yose. Ia menegaskan prinsip-prinsip Bandung seperti solidaritas, kesetaraan, dan kemandirian harus terus dijaga, diperkuat, dan diperbarui agar tetap kontekstual dengan dinamika internasional yang cepat berubah.
Dalam pidato kunci, Drs. H. Dindin Wahyudin, DEA, Penasihat Khusus Menteri Luar Negeri Bidang Diplomasi Ekonomi, Kementerian Luar Negeri, menyampaikan pentingnya Indonesia dan India sebagai “arsitek asli” semangat Bandung untuk menegaskan legitimasi moral mereka dalam mengarahkan perubahan dunia.
“Tantangan global menuntut kita untuk menimbang apa yang perlu dipertahankan, apa yang harus direformasi, dan apa yang mesti diperkuat. Indonesia dan India memiliki peran historis sekaligus kapasitas kontemporer untuk berkontribusi nyata dalam proses ini,” ujarnya.
Lewatbpesan video pembukaannya, Pabitra Margherita, Minister of State for External Affairs India, menekankan dunia kini berada pada persimpangan sejarah, dengan meningkatnya rivalitas geopolitik, dan kecenderungan proteksionisme ekonomi. Ia mengingatkan pentingnya menimbang nilai-nilai apa yang harus dipertahankan, apa yang perlu direformasi, dan apa yang mesti dibangun kembali.
“Kita harus jaga adalah Semangat Bandung. Konferensi Asia-Afrika 1955 menjadi tonggak penting abad ken20 yang menegakkan prinsip non-intervensi, saling menghormati kedaulatan dan integritas teritorial, serta hidup berdampingan secara damai,” ucapnya.
Margherita menambahkan, ketidaksetaraan akses sumber daya global, yang semakin tampak pasca-pandemi Covid 19, harus menjadi fokus reformasi dunia.
Ia menekankan perlunya membangun sistem global yang inklusif dengan representasi lebih besar bagi negara-negara Global South.
“Indonesia dan India, sebagai dua suara pendiri Bandung, berada pada posisi unik untuk memimpin wacana global menuju tatanan dunia yang lebih adil dan setara,” lanjutnya.
Sesi percakapan pembuka mengangkat tema “Navigating the India-Indonesia Bilateral in a Changing Global Order”. Forum ini menyoroti hasil pertemuan bilateral pertama Presiden Prabowo Subianto dengan Perdana Menteri Narendra Modi di New Delhi pada Januari 2025 lalu, serta bagaimana Track 1.5 Dialogue menjadi instrumen penting untuk memperdalam hubungan komprehensif kedua negara.
Sementara, Duta Besar RI untuk India, Ina Krisnamurthi, menekankan penguatan hubungan kedua negara harus dibangun di atas kerangka 6C: Contact, Connect, Cooperate, Collaborate, Confidence, dan Convergence. Menurutnya, keenam pilar ini menjadi fondasi penting untuk menciptakan hubungan yang lebih erat, saling percaya, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat kedua negara.
Dari sisi India, Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menyoroti beberapa prioritas yang perlu diperkuat. Ia menekankan pentingnya perhatian lebih besar terhadap hubungan bilateral agar tetap dinamis, serta menjadikan kerja sama maritim sebagai salah satu bidang strategis.
Selain itu, ia menekankan perlunya memanfaatkan potensi mekanisme trilateral bersama mitra seperti Australia, Prancis, dan Jepang untuk memperluas dampak positif di kawasan. Menurutnya, kunjungan tingkat tinggi yang lebih sering akan memberikan momentum baru bagi hubungan bilateral.
Tidak kalah penting, Dubes Sandeep menekankan perlunya engagement yang lebih fokus di bidang perdagangan dan ekonomi, mengingat potensi besar yang dimiliki kedua negara.
“Signifikansi strategis Indonesia dan India dapat dilihat dari proyeksi bahwa pada pertengahan abad ini, kedua negara secara bersama-sama akan mewakili hampir 20 persen populasi dunia serta berkontribusi sekitar 13 persen–15 persen terhadap PDB dan output global,” tegasnya.
Forum ini menegaskan Indonesia dan India bukan hanya mitra regional, tapi pemain global yang memiliki kapasitas historis maupun kontemporer untuk mendorong lahirnya tatanan dunia baru yang lebih adil, multipolar, dan inklusif.
Dari pihak Kementerian Luar Negeri Indonesia, Ricky Eka Virgana Ichsan, Direktur Asia Selatan dan Tengah, menambahkan, kerja sama konkret diperlukan di sektor kesehatan, energi, dan transformasi digital.
Menurutnya, kesamaan kepentingan dan kapasitas kedua negara menjadikan kolaborasi ini saling melengkapi.
Diskusi ini dimoderatori oleh Shafiah F. Muhibat, Wakil Direktur Eksekutif CSIS Indonesia, yang menekankan pentingnya menggabungkan perspektif kebijakan luar negeri dengan inisiatif masyarakat sipil.
Seminar ini menegaskan kembali Indonesia dan India bukan hanya mitra strategis di kawasan, tapi aktor kunci membentuk masa depan global.
Dengan menghidupkan kembali Bandung Spirit menggabungkannya dengan agenda kontemporer seperti ekonomi digital, keamanan maritim, dan transformasi pendidikan, kedua negara berpotensi menjadi penggerak terciptanya tatanan dunia yang lebih seimbang dan inklusif.
Dialog Track 1.5 Indonesia–India yang ken2 pertemukan para pakar think-tank, pejabat tinggi pemerintah, pemimpin bisnis, serta pakar dari berbagai bidang di kedua negara. Beberapa pembicara terkemuka antara lain Yose Rizal Damuri (Direktur Eksekutif CSIS Indonesia), Rajiv Bhatia (Distinguished Fellow untuk Studi Kebijakan Luar Negeri di Gateway House), Drs. H. Dindin Wahyudin, DEA (Penasihat Khusus Menteri Luar Negeri RI Bidang Diplomasi Ekonomi), serta Pabitra Margherita (Minister of State for External Affairs, Pemerintah India, melalui pesan video).
Percakapan tingkat tinggi menghadirkan Ina Krisnamurthi (Duta Besar RI untuk India, daring), Sandeep Chakravorty (Duta Besar India untuk Indonesia), dan Ricky Eka Virgana Ichsan (Direktur Asia Selatan dan Tengah, Kementerian Luar Negeri RI), dengan moderator Shafiah F. Muhibat (Wakil Direktur Eksekutif Bidang Riset, CSIS Indonesia).
Dialog ini menghadirkan kontribusi dari sejumlah tokoh penting seperti Tri Purnajaya (Kementerian Luar Negeri RI), Srinivas Gotru (Duta Besar India untuk ASEAN), Fabby Tumiwa (Institute for Essential Services Reform), Margaretha Thaliharjanti (Pertamina Energi Institute), Laksamana Pertama Salim (SESKOAL), Letjen (Purn.) S. L. Narasimhan, Stella Christie (Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains & Teknologi RI), serta Soumya Swaminathan (MS Swaminathan Research Foundation, daring), dan banyak lainnya.
Selama dua hari ke depan, forum Track 1.5 Dialogue ini akan membahas berbagai isu strategis dalam hubungan bilateral, termasuk ketahanan energi, kerja sama maritim dan pertahanan, pendidikan, pangan, pupuk, konektivitas digital dan infrastruktur, serta ketangguhan menghadapi bencana.
Forum ini akan mengeksplorasi keterlibatan Indonesia dan India di berbagai forum regional dan global, sejalan dengan aspirasi bersama kedua negara untuk mewujudkan tatanan dunia yang seimbang.
Indonesia dan India Perkuat Peran Strategis Tatanan Dunia yang Berubah
Diskusi pembaca untuk berita ini