Jakarta, katakabar.com - Bitcoin atau BTC telah menunjukkan performa mengesankan sepekan terakhir dengan mencatatkan kenaikan harga lebih dari 12 persen, dari level US$60.000 mencapai titik tertinggi mingguan di US$68.295, di pekan keempat Juli 2024 lalu.
Bila dilihat dari level terendahnya di pekan pertama Juli lalu saat BTC sentuh area US$54.000, performa kenaikan harga yang dibukukan mencapai 25 persen.
Salah satu faktor utama yang mendukung momentum bullish ini, yakni antisipasi peluncuran perdagangan ETF Ethereum spot pertama di Amerika Serikat hingga aliran dana ETF BItcoin spot menunjukkan netflow positif selama 12 hari perdagangan berturut-turut dari pekan pertama Juli.
Tapi, saat ETF Ethereum resmi diperdagangkan pada Selasa (23/7), mengapa Bitcoin dan pasar kripto secara keseluruhan tetap stabil?
Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menyoroti harga Bitcoin yang tidak selalu naik secara konsisten. Reli BTC baru-baru ini telah menemui hambatan di sekitar level US$68.200, yang menunjukkan para investor dan trader sedang menjual pada posisi tersebut. Para pelaku pasar akan berusaha mendorong BTC di bawah US$66.000, yang dapat memicu penurunan yang signifikan.
"Penurunan ini disebabkan beberapa faktor utama, seperti pengembalian Bitcoin oleh Mt. Gox yang kini sedang dalam proses mengembalikan lebih dari 140.000 BTC kepada kreditor. Kekhawatiran bahwa pasokan BTC yang berlebih dapat mempengaruhi harga di pasar cukup beralasan," ujar Fyqieh.
Selain itu, kata Fyqieh, pemerintah AS baru-baru ini memindahkan BTC senilai US$4 juta ke Coinbase Prime, menimbulkan spekulasi tentang kemungkinan penjualan. Pergerakan ini sering kali menjadi perhatian pasar lantaran pemerintah AS memegang BTC dari berbagai penyitaan.
Lalu, ulas Fyqieh, CSOP Asset Management, salah satu manajer aset terbesar di China, berencana meluncurkan ETF baru untuk shorting BTC. Ini bisa sebabkan aliran modal yang lebih besar ke produk short, yang berpotensi meningkatkan tekanan jual di pasar," tambahnya.
Untuk jangka pendek, penurunan harga BTC sebagian besar disebabkan kekhawatiran tentang pasokan BTC yang berlebih akibat pengembalian dana Mt. Gox dan spekulasi terkait transaksi pemerintah AS. Peluncuran ETF yang berfokus pada shorting BTC juga dapat berkontribusi pada volatilitas pasar.
Tapi, Fyqieh menambahkan, meskipun ketidakstabilan pasar jangka pendek, penyelesaian masalah besar seperti pengembalian dana Mt. Gox bisa menjadi positif untuk pasar kripto secara keseluruhan. Dengan selesainya pengembalian dana, pasar bisa mendapatkan stabilitas lebih besar dan berpotensi mengalami kenaikan di masa depan.
Investor perlu mempertimbangkan dinamika pasar dan situasi makroekonomi yang sedang berlangsung, seperti hasil Pemilu AS, dan potensi perubahan kebijakan pemerintah terhadap kripto. Penarikan diri Presiden Joe Biden dari pemilihan AS mendatang telah menciptakan spekulasi kebijakan yang lebih mendukung kripto mungkin akan diadopsi, tergantung siapa yang terpilih. Situasi ini tetap bersifat spekulatif dan memerlukan perhatian lebih lanjut.
Menurut Fyqieh, sinyal bullish untuk melanjutkan kenaikan harga Bitcoin masih kuat jangka pendek. Pengembalian Bitcoin ke US$67.500 akan mendukung pergerakan menuju level resistensi US$69.000 sekitar Rp1,1 miliar.
Penembusan dari level resistensi US$69.000 dan level US$70.000 dapat memberi peluang bagi para investor untuk mencapai level tertinggi sepanjang masa di US$73.808 atau sekitar Rp1,19 miliar.
Di sisi lain, penembusan di bawah level dukungan US$64.000 dan EMA 50 hari dapat menandakan penurunan menuju level dukungan US$60.365.
Kontak: Bianda Ludwianto Public Relations Tokocrypto +62856-9267-2993 l [email protected]
ETF Ethereum Resmi Diperdagangkan, Potensi Kenaikan Lanjutan Bitcoinkah
Diskusi pembaca untuk berita ini