Teluk Kuantan, katakabar.com - Tradisi budaya Melayu Pacu Jalur di Kuantan Singingi (Kuansing) selalu menyisakan cerita. Tahun ini, sorotan publik sempat teralihkan pada kedatangan artis viral Aishar Khalid dan Melly Mike.

Kehadiran mereka mengundang decak kagum, bahkan Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, sempat berjalan bersama Aishar sapa masyarakat Kuansing.

Sementara, Melly Mike mendapat sambutan meriah saat menghibur penonton di konser Pacu Jalur.

Tapi, di balik gegap gempita panggung hiburan dan sorak-sorai penonton, ada kisah yang lebih dalam. Sebuah kisah tentang ketulusan, keberanian, dan semangat yang lahir dari bumi Kuansing itu sendiri. Kisah itu datang dari seorang perantau berdarah Batak, bernama Hardianto Manik.

Beberapa waktu lalu, dunia maya heboh dengan istilah baru dari Kuansing, "Aura Farming". Awalnya, istilah ini muncul dari penampilan seorang bocah bernama Dika yang menari di atas jalur, mengundang gelombang tawa dan kagum netizen.

Aura Farming lalu menjadi simbol magnet, daya tarik tak kasat mata yang memancarkan energi hingga orang-orang tertarik mendekat dan memberi perhatian.

Bila Aishar Khalid dan Melly Mike membawa “aura pujian” lewat popularitas mereka, maka Hardianto Manik justru memancarkan aura yang lahir dari pengorbanan dan ketulusan.

Aura Farming dalam dirinya bukan sekadar hiburan, tetapi energi yang menumbuhkan semangat, menyatukan perbedaan, dan menumbuhkan harapan baru.

Awalnya, kehadiran Hardianto Manik menjadi sponsor jalur pada Pacu Jalur  tidak serta merta diterima. Sebagai seorang polisi berdarah Batak, dia pernah merasakan ditolak, dihujat, bahkan dilaporkan ke institusinya karena dicurigai banyak membantu dana kepada jalur. Tapi, ia tidak menyerah.

Dengan kesungguhan, dia mendukung jalur Bintang Mas Cahaya Intan 2023, yang tidak pernah diperhitungkan dan tidak terkenal. Dia turun langsung bersama warga dan anak pacuan. Dia bukan sekadar penyumbang dana, melainkan bagian dari perjuangan itu sendiri.

Hasilnya mengejutkan, di Tapian Narosa, jalur binaannya berhasil mengalahkan Tuah Daruk Keramat Imbang di Alam dari Kabupaten Indragiri Hulu. Pancang ke enam menjadi saksi ketika Bintang Mas Cahaya Intan 2023 melaju lebih dulu. Kuansing pun bersorak: juara pertama!

Dalam sambutannya usai menerima piala bergilir dari Menteri Pariwisata RI, Hardianto Manik berkata dengan sederhana.

“Saya adalah seorang perantau dari Sumatra Utara. Saya datang ke Kuansing untuk mengabdi sebagai aparat Kepolisian. Tugas saya melayani, dan mengayomi masyarakat, termasuk menjadi promotor untuk masyarakat. Ini adalah kewajiban saya,” ceritanya.

Kalimat itu menegaskan, keberhasilan bukan soal etnis atau popularitas, melainkan soal keikhlasan dalam mengabdi. Alam Kuansing seolah mengangkat namanya, bukan karena pujian manusia, melainkan karena kejujuran semangatnya.

Aishar Khalid dan Melly Mike hadir, disanjung karena keartisannya. Tapi Hardianto Manik, seperti halnya Dika si bocah penari jalur, diviralkan oleh alam Kuansing itu sendiri. Aura Farming dalam dirinya adalah kekuatan yang menyatukan, bukan hanya menghibur, tetapi menggerakkan.

Di balik tradisi Pacu Jalur yang riuh, kisah Hardianto Manik memberi kita hikmah, siapa pun, dari latar apa pun, dapat menjadi cahaya jika ia tulus berjuang.

Aura Farming bukan sekadar istilah viral, melainkan cermin kekuatan hati yang sanggup menembus sekat perbedaan, dan melahirkan kemenangan.