Padang, katakabar.com - Total 12 ribu ton cangkang kelapa sawit atau palm kernel shell senilai sejuta Dollar AS atau persisnya USD 960.000 berlayar dari Pelabuhan Teluk Bayur, Padang, Provinsi Sumatera Barat, menuju Jepang, Jumat (26/9) lalu.
Proses ekspor cangkang sawit itu difasilitasi Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan atau Karantina Provinsi Sumatera Barat, setelah melalui serangkaian tindakan karantina yang ketat untuk memastikan produk memenuhi persyaratan ke negara tujuan.
Kepala Balai Karantina Sumbar, RM Ende Dezeanto, melalu keterangan resmi dilansir dari laman mediaperkebunan.id, Minggu (28/9) sore, mengutarakan fasilitasi proses ekspor seperti ekspor palm kernel shell ke Jepang itu sudah kegiatan rutin mereka fasilitasi.
Komitmen Karantina, terang Dezeanto, untuk pastikan kelancaran ekspor dengan tetap kedepankan aspek keamanan dan kualitas produk, sesuai dengan standar karantina internasional
“Karantina telah melaksanakan serangkaian tindakan karantina yang ketat untuk memastikan produk yang mau diekspor, dalam hal ini cangkang sawit, memenuhi persyaratan negara tujuan,” jelasnya.
Diceritakan Dezeanto, proses pemeriksaan atas cangkang sawit mulai dari pengambilan sampel atau sampling langsung di gudang penyimpanan perusahaan eksportir.
Lepas itu, kata Ende, sampel yang telah diambil kemudian dibawa ke laboratorium karantina untuk menjalani pemeriksaan dan pengujian.
Pemeriksaan tersebut, tuturnya, bertujuan untuk pastikan cangkang sawit yang hendak diekspor bebas dari organisme pengganggu tumbuhan karantina atah OPTK yang dapat membahayakan sektor pertanian negara tujuan.
“Tahap akhir melibatkan pengawasan pemuatan atau loading supervision ke dalam kapal di Pelabuhan Teluk Bayur, Padang,” imbuhnya.
Ia memastikan kalau sejumlah petugas karantina hadir langsung untuk memastikan tidak terjadi kontaminasi selama proses bongkar muat dan bahwa produk yang dimuat sesuai dengan yang telah lolos pemeriksaan.
Menurutnya, sejatinya ekspor cangkang sawit dari Sumbar secara rutin dilakukan melalui Pelabuhan Teluk Bayur, dengan negara tujuan seperti Jepang dan Korea Selatan atau Korsel.
Dari informasi yang ada, sebutnya, cangkang sawit dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan atau biomassa untuk pembangkit listrik di kedua negara tersebut.
Jedi, bebernya, keberhasilan ekspor cangkang sawit ini tidak hanya memberikan kontribusi devisa negara tetapi menggerakkan roda perekonomian daerah.
“Khususnya bagi para pelaku usaha di sektor perkebunan kelapa sawit di yang ada di Provinsi Sumatera Barat ini,” tandasnya.
Dari Ranah Minang ke Negeri Sakura Berlayar 12 Ribu Ton Cangkang Sawit Senilai Sejuta USD
Diskusi pembaca untuk berita ini