Jakarta, katakabar.com - Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS melalui beragam penelitian dan pengembangan inovasi produk hilir sawit mendukung pengembangan produk hilir sawit.

Hal ini sebagai bukti dukungannya agar inovasi produk hilir dapat masuk dan diproduksi di Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan investasi industri hilir sawit bernilai tambah tinggi.

Kepala Divisi Program Pelayanan BPDPKS, Arfie Thahar menyebutkan, lembaganya mendukung pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus yang fokus kepada produk hilir sawit bernilai tambah tinggi.

“Dukungan ini diwujudkan BPDPKS melalui program Penelitian, dan Pengembangan salah satu upaya BPDPKS untuk melakukan penguatan, pengembangan dan peningkatan pemberdayaan perkebunan dan industri sawit saling bersinergi di sektor hulu dan hilir, demi terwujudnya industri sawit nasional yang tangguh dan berkelanjutan,” kata Arfie saat jadi narasumber Seminar ‘Peranan Kawasan Ekonomi Khusus Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Investasi Industri Hilir Sawit Bernilai Tambah Tinggi’, yang digelar Dewan Minyak Sawit Indonesia dan Majalah Sawit Indonesia, di Jakarta, Senin (4/11) lalu.

Seminar yang didukung BPDPKS ini dihadiri Sekretaris Jenderal Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK, Rizal Edwin Manansang, Deputi Bidang Pengembangan Regional Kementerian PPN/Bappenas, Tri Dewi Virgiyanti, Dirjen Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, Kepala Divisi Program Pelayanan BPDPKS, Arfie Thahar, Direktur KEK, Sei Mangkei Moses Situmorang, dan Pemimpin Redaksi Majalah Sawit Indonesia, Qayuum Amri.

Dida Gardera Deputi Menko II Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian Perekonomian RI, saat menyampaikan pidato kunci menjelaskan, Kawasan Ekonomi Khusus atau KEK dapat mempercepat pertumbuhan investasi energi baru terbarukan seperti bioetanol dan bioavtur yang bernilai tambah tinggi.

“Jadi KEK ini merupakan kawasan yang sangat istimewa karena sifatnya mempunyai kekhususan dan diberikan kemudahan (pelaku usaha) dari KEK ini sangat luar biasa,” jelas Dida, dilansir dari laman website resmi BPDPS, Rabu (6/11).

Ditegaskan Dida, sawit tumpuan ekonomi Indonesia karena baik dari kontribusinya terhadap PDB maupun tenaga kerja. Hal ini menjadi bagian yang bakal menjadi mesin utama dalam menghadapi Indonesia emas.

Menurut Arfie, kalau kawasan sudah siap dan apa saja yang dikembangkan di kawasan tersebut atau KEK. Dari penelitian dan pengembangan inovasi produk yang telah didanai BPDPKS bisa dimanfaatkan.

“Hasil penelitian sudah lengkap hingga dengan keekonomian. Apakah penelitian bisa diterapkan atau tidak?,” ucapnya.

“Kami sudah kerja sama dari hasil riset dengan Asosiasi Inventor Indonesia atau AII. Kami kenalkan ragam riset kepada industri (investor) supaya penelitian ini tidak hanya selesai menjadi buku. Melalui kerjasama ini, AII mempertemukan antara inventor dengan investornya. ada 15 penelitian yang sudah dipertemukan dengan calon investor,” beber Arfie.

“Langkah ini, ulas Lulusan IPB University ini, bakal terus kami tempuh supaya penelitian (hasil riset) bisa dimanfaatkan dan ada industri yang bisa mengembangkannya di dalam negeri. Dalam rangka untuk mencapai tujuan meningkatkan jumlah produk hilir sawit.

BPDPKS telah memulai program Grant Riset Sawit mulai tahun 2015. Program ini telah mendanai sebanyak 346 kontrak perjanjian kerjasama dengan 88 lembaga litbang dengan keterlibatan 1.212 peneliti yang tersebar di 21 provinsi di Indonesia.

Dari 7 bidang penelitian, terdapat 60 riset bidang bioenergi, 41 riset bidang biomaterial, 30 riset bidang pangan, 65 riset bidang lingkungan, 41 riset bidang budidaya, 19 riset bidang pasca panen dan 77 riset bidang sosial, ekonomi, dan teknologi informasi.

Output dari program ini antara lain telah menghasilkan 58 paten yang telah didaftarkan, 305 publikasi di jurnal internasional dan nasional, serta 7 buku yang telah dicetak.