Bengkulu, katakabar.com - Potensi kernel belum berkontribusi bagi Provinsi Bengkulu padahal bisa capai 1 juta ton per tahun.

Bahkan, sejauh ini Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C (KPPBC TMP C) Bengkulu tidak mencatat adanya ekspor kernel sawit dari provinsi tersebut.

"Ekspor kernel kelapa sawit dari Bengkulu banyak dilakukan lewat Pelabuhan Teluk Bayur di Sumatera Barat dan Pelabuhan Panjang di Bandar Lampung," kata perwakilan KPPBC TMP C Bengkulu, Agus Praminto, dilansir dari laman elaeis.co, Senin (7/8).

Kegiatan ekspor kernel kelapa sawit dilakukan di luar Provinsi Bengkulu sangat disayangkan, ujar Agus, padahal kernel bisa langsung diekspor dari Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu.

"Itu yang kita heran. Kenapa kernel masih diekspor melalui provinsi tetangga?" Jelasnya.

Menurutnya, andai kernel diekspor langsung dari Bengkulu, dampaknya pasti dirasakan daerah ini.

"Kegiatan ekspor bakal meningkatkan neraca perdagangan di daerah ini. Apalagi saat ini harga kernel di pasar internasional mencapai Rp6.747,75 per kilogram. Jika dilakukan ekspor melalui Bengkulu, maka pungutan ekspornya masuk ke daerah ini, dan tidak ke daerah lain.

"Makanya saat ini kita terus lakukan koordinasi dengan banyak Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Bengkulu agar bisa melakukan ekspor langsung dari Bengkulu," bebernya.

Selain kernel, harap Agus, produk turunan kelapa sawit lainnya selain CPO juga bisa diekspor langsung dari Bengkulu.

"Sebenarnya banyak produk turunan kelapa sawit yang bisa diekspor langsung dari Bengkulu, tapi selama ini dikirim ke daerah lain dulu," tandasnya.