Dolar AS Melemah dan Konflik Memanas, Mengapa Harga Emas Bisa Terkoreksi? Ekonomi
Ekonomi
17 jam yang lalu

Dolar AS Melemah dan Konflik Memanas, Mengapa Harga Emas Bisa Terkoreksi?

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas (XAUUSD) pada perdagangan memasuki pekan keempat Agustus 2026 diperkirakan masih menghadapi volatilitas yang cukup tinggi. Sejumlah faktor fundamental memberikan dukungan terhadap emas, terutama pelemahan dolar AS, berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed), serta meningkatnya kembali permintaan aset safe haven akibat ketegangan geopolitik. Tetapi, dari perspektif teknikal, Dupoin Futures melihat adanya potensi koreksi jangka pendek setelah harga gagal mempertahankan penguatan di atas level resistance penting. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai level 4.417 menjadi area krusial yang perlu diperhatikan pelaku pasar dalam menentukan arah pergerakan berikutnya. Berdasarkan analisis teknikal pada time frame H4, harga emas (XAUUSD) sebelumnya berupaya melanjutkan kenaikan dengan menguji resistance kedua di level 4.417. Tetapi, upaya tersebut belum berhasil menghasilkan breakout yang valid. Harga justru kembali bergerak di bawah level resistance setelah sempat menembusnya. Kondisi tersebut menunjukkan terjadinya false break, yang dapat menjadi indikasi awal bahwa kekuatan buyer mulai berkurang di area harga tinggi. False break pada resistance penting menjadi sinyal yang patut diperhatikan karena menunjukkan bahwa pasar belum memiliki cukup tenaga untuk mempertahankan tren kenaikan. Ketika harga gagal bertahan di atas resistance setelah breakout, seller biasanya memiliki peluang untuk kembali mengambil alih momentum. Pada kondisi tersebut, sebagian trader juga berpotensi melakukan aksi ambil untung setelah harga sebelumnya mengalami penguatan. Menurut Geraldo Kofit, apabila tekanan jual semakin meningkat, harga emas (XAUUSD) berpeluang mengalami koreksi menuju support 4.348. Level tersebut menjadi area penting untuk melihat apakah buyer akan kembali masuk ke pasar atau tekanan bearish justru semakin kuat. "Respons harga ketika mencapai support akan menjadi salah satu indikator bagi trader untuk menentukan apakah pelemahan yang terjadi hanya merupakan koreksi sementara atau berpotensi berlanjut ke level yang lebih rendah," ujarmya. Meski sinyal teknikal menunjukkan potensi penurunan, kondisi fundamental justru masih memberikan sejumlah katalis positif bagi emas. Salah satunya berasal dari pelemahan dolar AS. Penurunan nilai dolar cenderung membuat emas menjadi lebih menarik bagi investor yang menggunakan mata uang lain karena harga komoditas tersebut menjadi relatif lebih murah. Kondisi ini dapat membantu meningkatkan permintaan dan membatasi tekanan jual terhadap XAUUSD. Selain itu, ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed juga mengalami perubahan. Data ekonomi Amerika Serikat yang lebih lemah membuat pasar semakin mengurangi kemungkinan terjadinya kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Prospek kebijakan moneter yang lebih longgar dapat menjadi sentimen positif bagi emas karena menurunkan opportunity cost dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas. Perhatian investor juga masih tertuju pada perkembangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Meningkatnya ketegangan kedua negara serta ketidakpastian yang berkaitan dengan Selat Hormuz berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi dan pasar energi global. Kondisi tersebut dapat mendorong investor meningkatkan eksposur terhadap aset safe haven sebagai langkah untuk mengantisipasi risiko pasar. Ketidakpastian mengenai Selat Hormuz juga memiliki implikasi lebih luas terhadap pasar komoditas. Jalur tersebut merupakan salah satu rute penting dalam perdagangan energi global sehingga gangguan terhadap aktivitas pelayaran dapat memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak. Jika risiko geopolitik semakin meningkat, permintaan terhadap aset safe haven seperti emas (XAUUSD) berpotensi ikut terdorong. Dengan demikian, pergerakan harga emas hari ini berada dalam kondisi yang cukup menarik karena terdapat dua sentimen yang berlawanan. Fundamental cenderung memberikan dukungan terhadap emas melalui pelemahan dolar AS, ekspektasi suku bunga yang lebih rendah, dan meningkatnya permintaan safe haven. Namun, analisis teknikal menunjukkan bahwa harga masih menghadapi hambatan di resistance 4.417 setelah terjadi false break. Pelaku pasar juga perlu memperhatikan perkembangan data ekonomi Amerika Serikat dan komunikasi pejabat The Fed. Data yang menunjukkan pelemahan ekonomi dapat semakin memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dan memberikan katalis positif bagi emas. Sebaliknya, apabila data ekonomi kembali menunjukkan ketahanan yang lebih kuat, dolar AS berpotensi mendapatkan dukungan dan menambah tekanan terhadap harga emas. Secara keseluruhan, Dupoin Futures melihat bahwa harga emas (XAUUSD) masih memiliki fondasi fundamental yang cukup kuat, tetapi dalam jangka pendek peluang koreksi tetap terbuka. Kegagalan mempertahankan harga di atas resistance 4.417 menjadi sinyal teknikal yang perlu dicermati, sementara support 4.348 menjadi level utama yang berpotensi diuji apabila tekanan jual berlanjut.

Ketika Pasar Bergejolak: Membaca Pola Emas dan IHSG dari Tiga Krisis Besar Internasional
Internasional
18 jam yang lalu

Ketika Pasar Bergejolak: Membaca Pola Emas dan IHSG dari Tiga Krisis Besar

Jakarta, katakabar.com - Setiap kali pasar keuangan memasuki masa gejolak, satu pertanyaan yang sama selalu muncul di benak banyak investor: ke mana sebaiknya dana ditempatkan agar lebih tahan terhadap guncangan? Menengok ke belakang, tiga periode krisis besar yang dialami pasar Indonesia, yaitu krisis keuangan global 2008, pandemi 2020, dan volatilitas pasar 2024, memberikan gambaran yang menarik mengenai bagaimana emas dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak ke arah yang sering kali berlawanan. Babak Pertama: Guncangan Global 2008 Krisis keuangan global 2008 menjadi salah satu ujian terberat bagi pasar saham di hampir seluruh dunia. Tekanan yang berawal dari sektor keuangan negara maju merembet dengan cepat ke berbagai bursa, termasuk Indonesia. IHSG mengalami koreksi yang dalam seiring meningkatnya kehati-hatian investor secara global. Pada periode yang sama, harga emas dalam denominasi dolar AS justru bergerak menguat. Banyak pelaku pasar internasional mengalihkan sebagian dananya ke aset yang dianggap lebih defensif ketika ketidakpastian meningkat. Inilah kali pertama dalam ingatan banyak investor modern, pola pergerakan emas dan saham yang berlawanan arah terlihat begitu jelas. Babak Kedua: Tekanan Pandemi 2020 Lebih dari satu dekade kemudian, pandemi 2020 kembali menghadirkan tekanan yang luar biasa pada pasar keuangan dunia. Dalam waktu singkat, IHSG sempat turun tajam ketika kekhawatiran menyebar lebih cepat daripada kepastian. Pola yang serupa dengan 2008 pun terulang. Di tengah gelombang ketidakpastian itu, harga emas global sempat menyentuh kisaran rekor tertingginya, sementara harga emas dalam rupiah juga mencatat penguatan. Bagi sebagian investor, emas kembali menjalankan perannya sebagai salah satu aset penyeimbang ketika kelas aset lain berada di bawah tekanan. Babak Ketiga: Dinamika Pasar 2024 Berbeda dengan dua periode sebelumnya, 2024 tidak ditandai oleh satu guncangan besar, melainkan oleh dinamika pasar yang lebih beragam sepanjang tahun. IHSG menutup tahun dengan koreksi tipis. Pada saat yang sama, harga emas, baik secara global maupun dalam bentuk emas Antam, melanjutkan tren penguatan yang cukup konsisten. Rangkuman berikut memberikan gambaran umum atas pola pergerakan kedua aset selama tiga periode tersebut. Konteks Sering Terlewat: Pola Bukan Jaminan Meski pola di atas terlihat berulang, penting untuk dipahami bahwa hal ini bukan jaminan akan terjadi kembali dengan cara yang sama. Sejumlah studi akademik di Indonesia justru menunjukkan peran emas sebagai aset lindung nilai bersifat kontekstual. Pada beberapa periode, kekuatan hubungannya dengan pasar saham tidak selalu konsisten. Temuan ini memberi pelajaran berharga: tidak ada satu pun kelas aset yang dapat dianggap sepenuhnya bebas risiko. Setiap aset memiliki karakteristik, kelebihan, dan keterbatasannya masing-masing, yang perlu dipahami sebelum keputusan investasi diambil. Market Insight Ada beberapa pelajaran yang dapat dibaca dari ketiga periode tersebut. Pertama, pada masa tekanan pasar yang luas, emas dan saham kerap bergerak ke arah yang berbeda, sehingga keduanya dapat saling melengkapi dalam sebuah portofolio. Kedua, besarnya pergerakan tidak pernah sama di setiap krisis, sehingga mengandalkan satu skenario tunggal berisiko menyesatkan. Ketiga, dan yang paling konsisten muncul, adalah pentingnya diversifikasi. Dengan menyebar penempatan dana pada beberapa kelas aset yang memiliki karakteristik berbeda, investor memiliki peluang lebih baik untuk membangun portofolio yang seimbang dalam menghadapi berbagai kondisi pasar. Menurut tim Research Valbury, data historis sebaiknya dipahami sebagai bahan pembelajaran, bukan sebagai ramalan. Hal yang ingin terus didorong adalah literasi keuangan, agar masyarakat memahami karakteristik setiap aset beserta risikonya, dan dapat mengambil keputusan yang lebih bijak sesuai dengan profil masing-masing.

Kemarin

Pemerintah Dorong Penguatan Ekosistem Emas Dukung Sistem Moneter

Jakarta, katakabar.com - Pemerintah mendorong penguatan sistem moneter Indonesia dengan mengoptimalkan potensi cadangan emas tambang sebesar 3.600 ton. Deputi Bidang ESDM Kemenko Perekonomian, Elen Setiadi, mengatakan Indonesia perlu membangun ekosistem emas dari hulu hingga hilir, mulai dari produksi, traceability, pemurnian, perdagangan hingga bullion banking. Hal ini akan berkontribusi besar bagi perekonomian negara. Dengan kata lain, emas tidak hanya menjadi komoditas tambang, tetapi juga dapat berkembang menjadi instrumen keuangan dan aset strategis negara dan mampu mendukung sistem moneter. "Kalau nanti ditambah lagi dengan penguatan cadangan devisa, emasnya BI semakin baik-semakin besar, maka ketika ada guncangan dinamika global, guncangan ekonomi, kita punya stabilizer namanya emas selain cadangan devisa tadi," kata Elen. Diketahui, emas yang tercatat sebagai cadangan moneter Bank Indonesia (BI) baru mencapai 87,1 ton, atau sekitar 7,7% dari total cadangan. Dengan kepemilikan tersebut, Indonesia berada di posisi ke 44 dunia dalam hal cadangan emas bank sentral. Sebagai gambaran, negara maju seperti Amerika Serikat memiliki cadangan emas mencapai 8.133,5 ton. Sementara Jerman memiliki 3.349,5 ton, Italia 2.451,8 ton, Prancis 2.437 ton, dan China 2.346,4 ton. Meski penyerapannya belum semasif negara maju, produksi emas Indonesia disebut telah mencapai kisaran 100 ton per tahun. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM, Tri Winarno, menyebut produksi yang tercatat secara resmi belum sepenuhnya menggambarkan aktivitas emas di lapangan. Masih terdapat produksi dan perdagangan emas yang belum tercatat dalam sistem resmi. "Jadi memang ada beberapa catatan untuk emas ini memang yang mungkin teridentifikasi ada beberapa penjualan yang tanda petik ilegal gitu ya," ujar Tri. Ke depan, pemerintah akan mendorong penataan aktivitas pertambangan rakyat melalui Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) dan Izin Pertambangan Rakyat (IPR). Upaya tersebut diharapkan membuat aktivitas pertambangan emas lebih tertata dan produksinya dapat dipertanggungjawabkan, sekaligus mengurangi peredaran emas melalui jalur ilegal. "Mungkin nanti penambangannya lebih dapat dipertanggungjawabkan hasilnya, tidak lari ke mana-mana, ilegalitasnya sedikit," imbuhnya. Merujuk data Kemenko Perekonomian, Indonesia memiliki modal kuat untuk memperkuat ekosistem emas nasional. Sebagai gambaran, di dalam Grup MIND ID PT Antam Tbk saat ini memiliki fasilitas pemurnian (refinery) berkapasitas 150 ton per tahun. Selain itu, terdapat Smelter Manyar milik PT Freeport Indonesia yang mampu memurnikan emas hingga 50 ton per tahun. Sementara dari sektor swasta, smelter PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN) mampu mengolah emas dengan kapasitas 18 ton per tahun. Adapun, potensi produksi bijih juga didukung oleh sejumlah perusahaan tambang lainnya, seperti PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) sebesar 2,4–2,7 ton, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) 2,9 ton, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) 2,6 ton, PT Agincourt Resources (PTAR) 5,9–6,8 ton, serta PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar 2,2 ton per tahun. Besarnya kapasitas tersebut menjadi fondasi penting untuk memperkuat ekosistem emas nasional, yang pada akhirnya potensial untuk memperkuat cadangan devisa bank sentral. Atas dasar itulah, pemerintah terus mendorong Bank Indonesia (BI) untuk meningkatkan cadangan emasnya, sehinga semakin memperkuat stabilitas moneter dan ekonomi nasional.

Bank Sentral Didorong Perkuat Cadangan Emas, RI Punya 3.600 Ton Nasional
Nasional
Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:11 WIB

Bank Sentral Didorong Perkuat Cadangan Emas, RI Punya 3.600 Ton

Jakarta, katakabar.com - Indonesia memiliki cadangan emas sekitar 3.600 ton dan menempati posisi keempat dunia sebagai negara dengan cadangan terbesar. Tetapi, emas yang tercatat sebagai cadangan moneter Bank Indonesia (BI) baru mencapai 87,1 ton, atau sekitar 7,7% dari total cadangan. Dengan kepemilikan tersebut, Indonesia berada di posisi ke-44 dunia dalam hal cadangan emas bank sentral. Angka tersebut terpaut jauh dari Amerika Serikat yang mencapai 8.133,5 ton, Jerman 3.349,5 ton, Italia 2.451,8 ton, Prancis 2.437 ton, dan China 2.346,4 ton. Chairman Indonesia Mining Institute (IMI), Irwandy Arif, mempertanyakan kecilnya porsi emas dalam cadangan BI, mengingat Indonesia memiliki kekayaan emas yang besar. "Jadi pertanyaan kita kenapa Indonesia cuma sekian? Kenapa Bank Indonesia cuma sekian?" kata Irwandy dalam MINDialogue, Jakarta, Rabu (12/8) lalu. Dia menyebut kepemilikan emas bank sentral RI juga masih di bawah sejumlah negara di kawasan. Singapura, misalnya, memiliki 194 ton, sedangkan Thailand mencapai 234 ton. Menurut Irwandy, hal ini terjadi karena strategi BI selama ini lebih berorientasi pada cadangan valuta asing, terutama dolar Amerika Serikat. Aset tersebut dinilai lebih likuid sehingga dapat digunakan langsung ketika BI melakukan intervensi di pasar valuta asing. "Rupanya strategi Bank Indonesia itu mudah-mudahan saya nggak salah, lebih berorientasi pada cadangan valuta asing. Dolar," ujarnya. Irwandy menyebut cadangan devisa nasional saat ini sekitar US$146 miliar atau setara dengan 5,5 bulan impor. Menurut dia, keterbatasan cadangan devisa nasional turut membatasi ruang untuk memperbesar kepemilikan emas. "Yang persoalan kedua kenapa cuma 80 ton, keterbatasan total cadangan devisa nasional. Kita memang belum besar juga cadangan devisa nasionalnya," kata Irwandy. Lebih lanjut, Irwandy menilai strategi tersebut perlu dipertimbangkan kembali di tengah tren bank sentral dunia yang meningkatkan kepemilikan emas sebagai bagian dari diversifikasi cadangan. Sejumlah negara, seperti China, Rusia, India, Turki, dan Polandia, terus menambah kepemilikan emas. Langkah tersebut antara lain didorong oleh meningkatnya risiko geopolitik dan upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar. "Indonesia belum atau tidak mempunyai urgensi untuk melakukan diversifikasi dolar, padahal sekarang ini dedolarisasi sedang terjadi di dunia," jelas Irwandy. Lantaran itu, dia mengusulkan agar BI mulai menyerap sebagian produksi emas dalam negeri. Salah satu skema yang ditawarkan adalah pembelian sekitar 20 ton emas ketika produksi nasional mencapai 100 ton. "Misalnya kalau kita produksi 100 ton ya, maka Bank Indonesia itu nambah 20 ton," ucapnya. Merujuk data Kemenko Perekonomian, Indonesia memiliki modal kuat untuk memperkuat ekosistem emas nasional. Sebagai gambaran, di dalam Grup MIND ID PT Antam Tbk saat ini memiliki fasilitas pemurnian (refinery) berkapasitas 150 ton per tahun. Selain itu, terdapat Smelter Manyar milik PT Freeport Indonesia yang mampu memurnikan emas hingga 50 ton per tahun. Sementara dari sektor swasta, smelter PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMAN) mampu mengolah emas dengan kapasitas 18 ton per tahun. Adapun, potensi produksi bijih juga didukung oleh sejumlah perusahaan tambang lainnya, seperti PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) sebesar 2,4–2,7 ton, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) 2,9 ton, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) 2,6 ton, PT Agincourt Resources (PTAR) 5,9–6,8 ton, serta PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar 2,2 ton per tahun. Besarnya kapasitas tersebut menjadi fondasi penting untuk memperkuat ekosistem emas nasional, yang pada akhirnya potensial untuk memperkuat cadangan devisa bank sentral. Atas dasar itulah, pemerintah terus mendorong Bank Indonesia (BI) untuk meningkatkan cadangan emasnya, sehinga semakin memperkuat stabilitas moneter dan ekonomi nasional.

The Fed Makin Dovish, Mengapa Harga Emas Berpotensi Koreksi Pekan Depan? Internasional
Internasional
Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:07 WIB

The Fed Makin Dovish, Mengapa Harga Emas Berpotensi Koreksi Pekan Depan?

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas (XAUUSD) diperkirakan masih akan menjadi fokus utama pelaku pasar pada pekan depan. Analisis terbaru dari Dupoin Futures menunjukkan, harga emas berpotensi mengalami fase koreksi setelah mencatatkan penguatan yang cukup signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Meski demikian, prospek jangka menengah logam mulia masih ditopang oleh sentimen fundamental yang relatif positif, terutama setelah data inflasi di tingkat produsen Amerika Serikat memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) tidak akan terburu-buru kembali menaikkan suku bunga. Menurut analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, kombinasi faktor teknikal dan fundamental tersebut berpotensi membuat pergerakan emas lebih dinamis, dengan kecenderungan melemah terlebih dahulu sebelum pasar menentukan arah selanjutnya. Dari sisi fundamental, kata Geraldo, emas (XAUUSD) masih mendapatkan dukungan setelah data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat periode Juli menunjukkan hasil yang tidak mengalami kenaikan. Data tersebut memberikan sinyal tekanan inflasi di tingkat produsen mulai mereda, sehingga pelaku pasar semakin optimistis bahwa bank sentral Amerika Serikat memiliki ruang lebih besar untuk mempertahankan atau bahkan melonggarkan kebijakan moneternya dalam beberapa bulan mendatang. "Meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed berikutnya menjadi faktor yang mampu menjaga daya tarik emas sebagai aset lindung nilai, sekaligus berpotensi membatasi penguatan dolar AS," ujarnya. Menurut Dupoin Futures, sentimen tersebut sebenarnya masih memberikan fondasi yang cukup kuat bagi pergerakan harga emas (XAUUSD) dalam jangka menengah. Namun, setelah kenaikan harga yang cukup agresif sebelumnya, pasar diperkirakan mulai memasuki fase konsolidasi. Sebagian investor kemungkinan memilih merealisasikan keuntungan melalui aksi profit taking, sehingga tekanan jual dalam jangka pendek berpotensi meningkat. Kondisi seperti ini merupakan hal yang umum terjadi setelah reli panjang, ketika pelaku pasar mulai mengamankan keuntungan sambil menunggu katalis baru yang mampu mendorong harga bergerak lebih tinggi. Dalam analisis teknikal, Dupoin Futures menilai bahwa struktur pergerakan emas (XAUUSD) pada time frame Daily mulai menunjukkan sinyal pelemahan. Harga diketahui membentuk swing high baru yang mengindikasikan bahwa momentum kenaikan mulai kehilangan tenaga. Terbentuknya swing high tersebut menunjukkan adanya peningkatan aktivitas jual di area harga yang lebih tinggi, sehingga membuka peluang bagi pasar untuk bergerak lebih rendah dalam beberapa sesi perdagangan mendatang. Selain itu, pergerakan harga juga mulai membentuk secondary trend yang mengarah ke bawah. Geraldo Kofit menjelaskan bahwa kondisi ini menunjukkan adanya fase koreksi di tengah tren yang sebelumnya didominasi oleh kenaikan. Dalam proyeksi Dupoin Futures, area 4.220 menjadi level support sekaligus demand zone yang perlu dicermati oleh investor. Zona tersebut berpotensi menjadi titik munculnya kembali minat beli apabila tekanan jual mulai mereda dan pasar memperoleh sentimen positif baru. Sinyal pelemahan juga diperkuat oleh indikator Stochastic, yang saat ini bergerak turun menuju area oversold. Pergerakan indikator tersebut mencerminkan bahwa momentum bearish mulai meningkat dalam jangka pendek. Walaupun kondisi oversold nantinya dapat membuka peluang terjadinya rebound teknikal, Dupoin Futures menilai tekanan jual masih memiliki ruang untuk berlanjut selama belum muncul konfirmasi pembalikan arah yang lebih kuat. Meski proyeksi jangka pendek cenderung mengarah pada koreksi, Dupoin Futures menegaskan bahwa kondisi ini belum dapat diartikan sebagai perubahan tren utama menjadi bearish. Pelemahan harga lebih dipandang sebagai proses penyesuaian yang sehat setelah reli yang cukup panjang. Dalam siklus pasar, koreksi seperti ini sering menjadi bagian dari proses konsolidasi sebelum tren utama kembali berlanjut. Pada pekan depan, perhatian pelaku pasar juga diperkirakan masih akan tertuju pada sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat, termasuk perkembangan inflasi, data tenaga kerja, serta komentar dari para pejabat Federal Reserve. Setiap perubahan ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, yang selama ini menjadi faktor utama penentu arah harga emas (XAUUSD). Selain faktor ekonomi, dinamika geopolitik global juga tetap menjadi variabel yang tidak dapat diabaikan. Apabila ketidakpastian global kembali meningkat, permintaan terhadap aset safe haven seperti emas berpotensi kembali menguat dan membatasi ruang pelemahan harga. Sebaliknya, apabila sentimen risiko membaik dan investor mulai kembali masuk ke aset berisiko, tekanan terhadap emas dapat berlanjut dalam jangka pendek. Secara keseluruhan, Dupoin Futures memproyeksikan bahwa harga emas (XAUUSD) pada pekan depan masih memiliki peluang mengalami koreksi teknikal meskipun didukung oleh fundamental yang relatif kondusif. Ekspektasi The Fed akan bersikap lebih dovish setelah data PPI Amerika Serikat yang melandai masih menjadi sentimen positif bagi emas. Namun, terbentuknya swing high, munculnya secondary trend bearish, meningkatnya aksi profit taking, serta indikator Stochastic yang bergerak menuju area oversold menunjukkan tekanan jual masih berpotensi berlanjut menuju support 4.220. Oleh karena itu, investor dan trader disarankan untuk mencermati pergerakan harga di area tersebut sebagai acuan dalam menyusun strategi transaksi, sembari terus memantau perkembangan data ekonomi dan kebijakan moneter Amerika Serikat yang dapat memengaruhi arah pergerakan emas (XAUUSD) pada pekan depan.

Dupoin Futures Soroti Potensi Pelemahan Harga Emas Selepas Reli Dua Bulan Internasional
Internasional
Senin, 17 Agustus 2026 | 14:07 WIB

Dupoin Futures Soroti Potensi Pelemahan Harga Emas Selepas Reli Dua Bulan

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas (XAUUSD) diperkirakan masih akan diwarnai volatilitas tinggi. Analisis terbaru dari Dupoin Futures menunjukkan, peluang koreksi jangka pendek mulai terlihat setelah harga gagal mempertahankan momentum kenaikan di area resistance penting. Tetapi, prospek emas (XAUUSD) secara fundamental masih relatif positif karena permintaan terhadap aset safe haven tetap terjaga di tengah ketidakpastian global. Menurut analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, pelaku pasar perlu mencermati sinyal teknikal yang mulai menunjukkan pelemahan, sembari tetap memperhatikan perkembangan faktor fundamental yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan harga. Dalam kajian teknikal Dupoin Futures, emas (XAUUSD) pada time frame H4 memperlihatkan indikasi bahwa momentum bullish mulai kehilangan tenaga. Salah satu sinyal yang menjadi perhatian adalah terjadinya false break pada area resistance 4.433. Harga sempat menembus level tersebut, tetapi tidak mampu bertahan dan akhirnya kembali bergerak di bawah resistance. Pola seperti ini sering diartikan sebagai indikasi bahwa tekanan beli mulai melemah dan pasar belum memiliki kekuatan yang cukup untuk melanjutkan reli dalam waktu dekat. Kata Geraldo Kofit, kegagalan harga mempertahankan posisi di atas resistance membuka peluang terbentuknya pola Double Top, yaitu salah satu pola pembalikan arah yang cukup sering digunakan dalam analisis teknikal. "Pola tersebut muncul ketika harga dua kali gagal melewati level puncak yang sama, sehingga mengindikasikan mulai berkurangnya dominasi buyer. Apabila pola ini terkonfirmasi melalui pergerakan harga berikutnya, maka peluang koreksi diperkirakan akan semakin besar," jelasnya. Selain pola harga, ujar Geraldo, indikator Stochastic juga memberikan sinyal yang mendukung skenario pelemahan. Dalam analisis Dupoin Futures, indikator tersebut menunjukkan potensi Bearish Divergence, yakni kondisi ketika harga masih berada di area tinggi tetapi momentum pada indikator justru mulai menurun. Perbedaan arah antara harga dan indikator tersebut umumnya menjadi tanda bahwa tren naik mulai kehilangan kekuatan sehingga risiko koreksi dalam jangka pendek meningkat. "Dengan mempertimbangkan beberapa sinyal teknikal tersebut, Dupoin Futures memproyeksikan bahwa harga emas (XAUUSD) berpeluang bergerak turun menuju area support 4.359 hingga 4.313. Zona tersebut dipandang sebagai area penting yang berpotensi menjadi tempat munculnya kembali minat beli apabila tekanan jual mulai mereda. Oleh karena itu, pelaku pasar disarankan untuk memperhatikan respons harga ketika memasuki area support tersebut sebelum menentukan strategi transaksi berikutnya," imbuhnya. Meskipun peluang koreksi mulai terbuka, Dupoin Futures menilai pelemahan yang berpotensi terjadi masih bersifat teknikal dan belum menjadi sinyal perubahan tren utama. Koreksi seperti ini bagian yang wajar setelah harga mengalami kenaikan yang cukup signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Selama tidak terjadi perubahan besar pada sentimen pasar maupun struktur teknikal jangka menengah, peluang tren bullish untuk kembali berlanjut masih tetap ada. Dari sisi fundamental, prospek harga emas (XAUUSD) masih memperoleh dukungan dari perkembangan ekonomi global. Salah satu sentimen positif datang dari data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat yang dirilis sesuai dengan ekspektasi pasar. Hasil tersebut mengurangi kekhawatiran Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Berkurangnya ekspektasi pengetatan kebijakan moneter menjadi kabar baik bagi emas karena dapat mengurangi tekanan terhadap aset yang tidak memberikan imbal hasil. Selain faktor inflasi, kondisi geopolitik juga masih menjadi pendorong utama permintaan terhadap aset safe haven. Ketidakpastian yang berkaitan dengan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia, masih menjadi perhatian investor internasional. Risiko terhadap kelancaran distribusi energi global membuat sebagian pelaku pasar tetap memilih menempatkan dana pada instrumen yang dianggap lebih aman, termasuk emas (XAUUSD). Dupoin Futures juga menyoroti bahwa harga emas (XAUUSD) masih berada di level tertinggi dalam lebih dari dua bulan terakhir. Posisi tersebut menunjukkan bahwa tren jangka menengah masih memiliki fondasi yang cukup kuat meskipun dalam jangka pendek muncul peluang aksi ambil untung atau profit taking. Kondisi seperti ini lazim terjadi setelah harga mengalami reli yang cukup panjang dan mencapai area resistance penting. Ke depan, perhatian pasar diperkirakan masih akan tertuju pada perkembangan kebijakan The Fed, arah pergerakan dolar AS, serta dinamika geopolitik global. Ketiga faktor tersebut diperkirakan akan menjadi penentu utama apakah koreksi yang terjadi hanya bersifat sementara atau berkembang menjadi pelemahan yang lebih dalam. Selain itu, perubahan pada imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat juga tetap menjadi indikator penting yang dapat memengaruhi minat investor terhadap emas. Secara keseluruhan, Dupoin Futures menilai bahwa harga emas (XAUUSD) masih didukung oleh fundamental yang relatif positif berkat meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga dan tetap tingginya permintaan terhadap aset safe haven. Tetapi, dari sisi teknikal, munculnya false break di area 4.433, potensi pola Double Top, serta sinyal Bearish Divergence pada indikator Stochastic menunjukkan bahwa ruang koreksi dalam jangka pendek semakin terbuka. Lantaran itu, Dupoin Futures memproyeksikan emas (XAUUSD) berpotensi menguji area support 4.359 hingga 4.313 sebelum pasar kembali menentukan arah tren berikutnya. Trader dan investor disarankan tetap disiplin dalam menerapkan manajemen risiko serta mencermati konfirmasi pergerakan harga agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih terukur.

Jaga Kedaulatan Mineral Nasional, Tata Kelola Emas Kunci Peningkatan Nilai Tambah Ekonomi
Ekonomi
Senin, 17 Agustus 2026 | 13:06 WIB

Jaga Kedaulatan Mineral Nasional, Tata Kelola Emas Kunci Peningkatan Nilai Tambah

Jakarta, katakabar.com - Indonesia memiliki cadangan emas yang besar, dan menempati posisi keempat dunia menurut Bank Sentral. Posisi strategis ini mampu menjadi tonggak kedaulatan mineral nasional dengan tata kelola yang optimal. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat kebutuhan emas domestik mencapai sekitar 190-200 ton per tahun. Tetapi, besarnya potensi cadangan emas saat ini belum sepenuhnya diimbangi dengan pasokan emas yang masuk melalui jalur formal. Pasokan emas dari jalur formal baru berada di kisaran 53,5-86,2 ton per tahun. Kesenjangan tersebut menunjukkan masih besarnya ruang untuk memperkuat tata kelola dan mengintegrasikan rantai pasok emas nasional ke dalam sistem yang formal, transparan, dan terstandardisasi. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Tri Winarno, mengatakan salah satu persoalan yang masih ditemukan dalam tata kelola emas nasional adalah adanya penjualan emas yang terindikasi ilegal. “Jadi memang ada beberapa catatan untuk emas ini memang yang mungkin teridentifikasi ada beberapa penjualan yang tanda petik ilegal gitu ya,” kata Tri dalam dalam forum MINDialogue: Komoditas untuk Negeri, Strategi Penguatan Cadangan Mineral untuk Stabilitas dan Kedaulatan Ekonomi RI, di Jakarta, Rabu (12/8) lalu. Di sisi lain, ujarnya, sektor Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) dan pertambangan rakyat memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap pasokan emas nasional. Produksi dari sektor tersebut diperkirakan mencapai 50-120 ton per tahun, atau mendekati volume pasokan yang berasal dari jalur formal. Tri mengatakan pemerintah tengah berupaya memperbaiki tata kelola pertambangan rakyat dengan memfasilitasi penambang yang selama ini teridentifikasi sebagai penambang liar untuk memperoleh izin melalui mekanisme Izin Pertambangan Rakyat (IPR). “Nah untuk ke depan seperti apa, untuk perbaikan tata kelola dan lain sebagainya sebetulnya untuk kementerian ESDM mencoba untuk memfasilitasi adanya penambang yang teridentifikasi sebagai penambang liar untuk diberikan izin melalui mekanisme IPR,” tambah Tri. Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, menekankan tantangan Indonesia bukan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan kekayaan sumber daya alam mampu memberikan nilai tambah sebesar-besarnya bagi bangsa. “Hampir semua diversifikasi sumber daya kita ada, sumber daya alam ya. Kita punya gas, kita punya minyak, di apa sektor maritim, agrikultur, hampir semua range ada dan kita juga punya apa namanya kekuatan stok cadangan yang sangat mumpuni. Tetapi persoalannya adalah bagaimana kita bisa menciptakan value yang lebih besar terhadap kekuatan sumber daya alam yang kita miliki," kata Todotua. Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin menilai pengelolaan cadangan mineral, khususnya emas, bukan sekadar persoalan ekonomi. Menurutnya, pengelolaan mineral juga berkaitan dengan kepentingan nasional dalam menjaga keamanan, kedaulatan, ketahanan ekonomi, dan kesejahteraan rakyat. “Sumber daya mineral harus dikelola secara strategis, berkelanjutan, dan memberikan nilai tambah sebesar-besarnya bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945, yakni demi kemandirian dan kedaulatan pengelolaannya,” terang Maroef. Masih Maroef, masih terdapat sejumlah aspek yang perlu diperkuat dalam tata kelola emas nasional. Hal itu mencakup pengelolaan pertambangan rakyat, keterlacakan (traceability) rantai pasok bijih, hingga penguatan ekosistem perdagangan hasil tambang agar terhubung dengan jalur formal. MIND ID menilai pembenahan tersebut perlu dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan sinergi lintas institusi, mulai dari pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat. Transformasi tata kelola cadangan mineral, kata Maroef, perlu dilakukan di setiap simpul utama proses bisnis pertambangan, mulai dari sektor hulu, menengah (midstream), hingga hilir. Di sektor hulu, MIND ID mendorong formalisasi pertambangan rakyat melalui IPR yang didukung harmonisasi regulasi dan pembinaan teknis secara berkelanjutan. Langkah tersebut diharapkan membuat aktivitas pertambangan rakyat berjalan lebih tertib dan aman sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat. Sementara di sektor menengah (midstream), pengolahan bijih perlu diperkuat melalui kehadiran lembaga agregator berbadan hukum yang mampu menjamin keterlacakan rantai pasok menuju sistem formal. Melalui skema tersebut, perusahaan yang ditunjuk dapat berperan sebagai pembina teknis sekaligus pembeli siaga (offtaker) untuk memastikan hasil tambang memenuhi standar yang dipersyaratkan. Penguatan tata kelola dari hulu hingga midstream selanjutnya diharapkan meningkatkan pasokan bahan baku yang masuk ke rantai pasok formal. Hal ini akan memperkuat produktivitas industri pengolahan dan pemurnian emas nasional, memperluas akses masyarakat terhadap produk emas yang terstandardisasi, serta mendukung penguatan ekosistem bullion nasional. MIND ID meyakini perbaikan tata kelola emas tidak hanya akan meningkatkan nilai tambah dan efisiensi rantai pasok, tetapi juga memastikan kekayaan emas Indonesia memberikan manfaat yang lebih besar bagi negara dan masyarakat. Pada akhirnya, penguatan tata kelola emas nasional menjadi bagian dari upaya membangun kedaulatan ekonomi yang berkelanjutan. Dengan rantai pasok yang terhubung secara legal, transparan, dan terintegrasi dari hulu hingga hilir, Indonesia dapat meningkatkan aktivitas ekonomi sekaligus memperkuat kemampuan dalam menjaga nilai strategis kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan kedaulatan negara.

Reli Belum Usai! Dupoin Futures Prediksi Harga Emas Masih Berpotensi Melonjak Internasional
Internasional
Jumat, 14 Agustus 2026 | 14:00 WIB

Reli Belum Usai! Dupoin Futures Prediksi Harga Emas Masih Berpotensi Melonjak

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas (XAUUSD) diperkirakan masih berada dalam jalur penguatan pada perdagangan Selasa (11/8). Analisis terbaru dari Dupoin Futures menjelaskan, tren bullish yang telah terbentuk dalam beberapa waktu terakhir masih menunjukkan kekuatan yang solid. Dukungan dari indikator teknikal yang positif serta meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven menjadi kombinasi faktor yang dinilai mampu menjaga momentum kenaikan harga dalam jangka pendek hingga menengah. Menurut analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, selama belum muncul sinyal teknikal yang mengindikasikan pembalikan arah, peluang emas (XAUUSD) untuk melanjutkan reli masih cukup besar. Dalam kajian teknikal yang dilakukan Dupoin Futures, emas (XAUUSD) pada time frame Daily masih memperlihatkan struktur pergerakan yang didominasi oleh buyer. Arah tren utama masih mengarah ke atas dengan target penguatan menuju area resistance 4.484 hingga 4.592. Area tersebut dipandang sebagai sasaran kenaikan berikutnya apabila momentum beli tetap bertahan dan tidak terganggu oleh sentimen negatif dari pasar global. Geraldo Kofit menuturkan salah satu indikator yang memperkuat proyeksi tersebut adalah Stochastic, yang hingga saat ini masih bergerak naik tanpa menunjukkan tanda-tanda pelemahan yang berarti. Posisi indikator tersebut mengindikasikan bahwa tekanan beli masih lebih dominan dibandingkan tekanan jual. Selama kondisi ini bertahan, peluang bagi harga emas (XAUUSD) untuk mencetak level yang lebih tinggi dinilai masih terbuka. "Dominasi buyer juga terlihat dari pola pergerakan harga yang terus mempertahankan tren naik secara konsisten. Meskipun dalam setiap tren bullish tetap terdapat peluang koreksi jangka pendek akibat aksi ambil untung, pelemahan tersebut diperkirakan hanya bersifat sementara selama struktur tren utama tidak mengalami perubahan. Oleh karena itu, investor disarankan untuk tetap memperhatikan level-level teknikal penting sebagai acuan dalam menentukan strategi transaksi," ujarnya. Analis Dupoin Futures juga mengingatkan kenaikan harga yang cukup cepat sering kali diikuti oleh peningkatan volatilitas pasar. Kondisi tersebut membuka peluang terjadinya fluktuasi harga yang lebih besar dalam jangka pendek. Tetapi, selama tekanan beli masih mampu mempertahankan momentum, koreksi yang muncul justru dapat menjadi bagian dari proses konsolidasi sebelum harga kembali melanjutkan penguatan. Dari sisi fundamental, prospek harga emas (XAUUSD) masih memperoleh dukungan dari meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven. Ketidakpastian mengenai situasi di Selat Hormuz kembali menjadi perhatian investor global karena kawasan tersebut merupakan salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia. Potensi gangguan terhadap arus perdagangan energi membuat pelaku pasar cenderung mengalihkan sebagian investasinya ke instrumen yang dianggap lebih aman, termasuk emas. Selain faktor geopolitik, Dupoin Futures juga menyoroti fenomena fear of missing out (FOMO) yang mulai terlihat di pasar. Setelah harga emas (XAUUSD) berhasil mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua bulan terakhir, semakin banyak investor yang mulai masuk ke pasar untuk mengantisipasi potensi kenaikan lanjutan. Arus pembelian tambahan tersebut turut memperkuat momentum bullish yang sedang berlangsung. Permintaan fisik emas dari China juga menjadi salah satu faktor yang menopang prospek harga. Sebagai salah satu konsumen emas terbesar di dunia, peningkatan pembelian dari China memberikan dukungan terhadap keseimbangan permintaan global. Menurut Dupoin Futures, tingginya permintaan dari pasar Asia berpotensi menjaga harga tetap berada dalam tren positif, terutama ketika dibarengi dengan meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai. Perhatian pelaku pasar kini juga tertuju pada rilis data Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat yang akan menjadi salah satu katalis utama dalam beberapa waktu ke depan. Data inflasi tersebut dinilai memiliki pengaruh besar terhadap ekspektasi arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Apabila inflasi menunjukkan perlambatan, pasar berpotensi semakin yakin bahwa bank sentral Amerika Serikat memiliki ruang untuk memangkas suku bunga di masa mendatang. Skenario tersebut dapat memberikan dorongan tambahan bagi harga emas (XAUUSD) karena pelemahan ekspektasi suku bunga biasanya diikuti oleh tekanan terhadap dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Sebaliknya, apabila inflasi masih bertahan tinggi atau bahkan melampaui ekspektasi pasar, peluang penguatan dolar AS dapat meningkat sehingga berpotensi membatasi laju kenaikan emas dalam jangka pendek. Dupoin Futures menilai bahwa kombinasi antara faktor teknikal dan fundamental saat ini masih memberikan peluang yang cukup besar bagi harga emas (XAUUSD) untuk mempertahankan tren bullish. Dominasi buyer yang masih kuat, indikator Stochastic yang terus menunjukkan momentum positif, meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven akibat ketidakpastian geopolitik, fenomena FOMO di kalangan investor, serta naiknya permintaan emas dari China menjadi fondasi yang memperkuat prospek kenaikan harga. Secara keseluruhan, Dupoin Futures memproyeksikan harga emas (XAUUSD) masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan menuju area resistance 4.484 hingga 4.592. Meskipun pasar tetap berpotensi mengalami volatilitas menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat, struktur tren yang masih bullish membuat peluang kenaikan dinilai lebih dominan.

Arah Harga Emas Terungkap, Dupoin Futures Soroti Area Support Krusial Internasional
Internasional
Kamis, 13 Agustus 2026 | 08:01 WIB

Arah Harga Emas Terungkap, Dupoin Futures Soroti Area Support Krusial

Jakarta, katakabar.com - Pergerakan harga emas (XAUUSD) diproyeksikan masih memiliki peluang untuk mempertahankan tren kenaikan pada perdagangan, Senin (10/8). Hasil analisis terbaru dari Dupoin Futures, arah pergerakan logam mulia masih didukung oleh struktur teknikal yang positif meskipun dalam jangka pendek harga berpotensi mengalami koreksi terlebih dahulu. Menurut analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, pelemahan sementara tersebut bagian dari dinamika pasar yang normal, dan tidak mengubah prospek bullish selama level-level teknikal penting tetap mampu dipertahankan. Kajian teknikal Dupoin Futures, emas (XAUUSD) pada time frame Daily masih bergerak dalam kecenderungan tren naik. Setelah mencatatkan kenaikan dalam beberapa sesi terakhir, harga diperkirakan memiliki ruang untuk membentuk secondary trend atau fase koreksi sehat sebelum kembali melanjutkan penguatan. Koreksi ini dipandang sebagai proses konsolidasi yang lazim terjadi dalam tren bullish, sekaligus memberikan kesempatan bagi pasar untuk membangun momentum baru. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menjelaskan area 4.227 hingga 4.232 menjadi zona support yang patut diperhatikan pelaku pasar. Bila harga bergerak turun menuju kisaran tersebut dan mampu bertahan, peluang munculnya kembali tekanan beli akan semakin besar. Dalam kondisi seperti itu, area support berpotensi menjadi titik awal bagi emas (XAUUSD) untuk melanjutkan kenaikan menuju level yang lebih tinggi. "Strategi yang lebih bijak saat ini adalah menunggu koreksi berlangsung sebelum mempertimbangkan pembelian baru. Langkah tersebut dinilai lebih ideal dibandingkan mengejar harga ketika sedang berada di level yang relatif tinggi. Koreksi yang terjadi justru dapat dimanfaatkan sebagai momentum akumulasi, selama tidak diikuti oleh perubahan struktur tren utama menjadi bearish," jelasnya. Sinyal positif lainnya datang dari indikator Moving Average (MA) 21 yang masih menunjukkan arah naik. Dalam analisis Dupoin Futures, indikator tersebut masih berfungsi sebagai dynamic support, yang mengindikasikan bahwa buyer tetap memiliki kendali atas pergerakan harga. Selama emas (XAUUSD) mampu bergerak di atas garis Moving Average tersebut, peluang kelanjutan tren bullish masih tetap terbuka. Tetapi, Dupoin Futures mengingatkan volatilitas pasar masih berpotensi meningkat dalam beberapa sesi mendatang. Oleh karena itu, trader disarankan tetap menerapkan manajemen risiko yang disiplin serta menunggu konfirmasi arah harga sebelum mengambil keputusan transaksi. Koreksi jangka pendek masih mungkin terjadi, tetapi selama support mampu bertahan, tekanan jual diperkirakan hanya bersifat sementara. Selain analisis teknikal, prospek harga emas (XAUUSD) juga didukung oleh sejumlah faktor fundamental yang berkembang di pasar global. Salah satu sentimen utama berasal dari pelemahan dolar Amerika Serikat setelah data ketenagakerjaan terbaru menunjukkan hasil yang lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar. Kondisi tersebut memunculkan harapan bahwa Federal Reserve (The Fed) memiliki peluang lebih besar untuk mempertimbangkan pelonggaran kebijakan moneter apabila perlambatan ekonomi terus berlanjut. Masih menurut Dupoin Futures, melemahnya dolar AS memberikan keuntungan bagi harga emas (XAUUSD) karena membuat logam mulia menjadi lebih menarik bagi investor internasional. Ketika nilai tukar dolar menurun, biaya pembelian emas dalam mata uang lain menjadi relatif lebih murah sehingga permintaan berpotensi meningkat. Faktor lain yang turut menopang harga adalah penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury Yield). Turunnya yield membuat aset berbunga menjadi kurang menarik dibandingkan sebelumnya. Dalam kondisi tersebut, sebagian investor cenderung mengalihkan dananya ke aset yang dianggap mampu menjaga nilai investasi, termasuk emas (XAUUSD). Di sisi lain, situasi geopolitik global juga masih menjadi perhatian pelaku pasar. Ketidakpastian terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia, membuat permintaan terhadap aset safe haven tetap terjaga. Menurut Dupoin Futures, selama risiko geopolitik belum benar-benar mereda, minat investor terhadap emas berpotensi tetap tinggi sebagai instrumen lindung nilai. Fokus pasar berikutnya akan tertuju pada rilis data inflasi Amerika Serikat, yang diperkirakan menjadi salah satu penentu arah pergerakan pasar keuangan dalam jangka pendek.  Dupoin Futures menilai apabila inflasi menunjukkan perlambatan, ekspektasi terhadap penurunan suku bunga The Fed akan semakin menguat. Skenario tersebut dapat menjadi katalis positif yang mendukung kelanjutan penguatan harga emas (XAUUSD). Sebaliknya, apabila inflasi kembali meningkat di atas perkiraan, peluang penguatan dolar AS dapat kembali terbuka sehingga ruang kenaikan emas menjadi lebih terbatas. Meski demikian, Dupoin Futures menilai bahwa selama faktor-faktor pendukung seperti pelemahan dolar, turunnya US Treasury Yield, dan tingginya permintaan terhadap aset safe haven masih bertahan, prospek jangka menengah emas (XAUUSD) tetap berada dalam kecenderungan positif. Secara keseluruhan, Dupoin Futures memproyeksikan bahwa harga emas (XAUUSD) masih berada dalam fase bullish meskipun terdapat peluang koreksi dalam waktu dekat. Area support 4.227 hingga 4.232 menjadi level penting yang perlu diperhatikan sebagai acuan untuk mengukur kekuatan tren. Selama harga mampu bertahan di atas area tersebut dan Moving Average 21 tetap mengonfirmasi arah naik, peluang emas (XAUUSD) untuk kembali melanjutkan penguatan dinilai masih terbuka. Kombinasi dukungan teknikal dan sentimen fundamental yang kondusif membuat Dupoin Futures tetap optimistis bahwa tren bullish pada harga emas (XAUUSD) berpotensi berlanjut setelah fase koreksi berakhir.

Prediksi Harga Emas Pekan Depan: Dupoin Futures Bidik Resistance 4.382 Internasional
Internasional
Minggu, 09 Agustus 2026 | 16:07 WIB

Prediksi Harga Emas Pekan Depan: Dupoin Futures Bidik Resistance 4.382

Jakarta, katakabar.com -  Pergerakan harga emas (XAUUSD) diperkirakan masih memiliki peluang untuk melanjutkan tren penguatan pada pekan depan. Berdasarkan analisis terbaru dari Dupoin Futures, struktur teknikal pada grafik harian masih menunjukkan dominasi tren bullish, meskipun harga saat ini telah memasuki area resistance yang berpotensi memicu koreksi jangka pendek. Menurut analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, pelemahan sementara bukan berarti mengubah arah tren utama, melainkan dapat menjadi kesempatan bagi pelaku pasar untuk mencari level masuk yang lebih ideal sebelum harga kembali melanjutkan kenaikan. Dalam kajian teknikal Dupoin Futures, emas (XAUUSD) pada time frame Daily masih mempertahankan pola pergerakan naik yang cukup kuat. Kenaikan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir mencerminkan bahwa minat beli masih mendominasi pasar. Tetapi, setelah reli yang cukup signifikan, harga kini berada di kawasan resistance sehingga peluang terjadinya aksi ambil untung atau profit taking semakin besar. Situasi tersebut dinilai sebagai bagian yang wajar dalam siklus pergerakan pasar dan belum memberikan sinyal perubahan tren menjadi bearish. Analis Dupoin Futures menjelaskan strategi terbaik bagi trader bukanlah mengejar harga ketika berada di level tinggi, melainkan menunggu fase koreksi yang sehat sebelum kembali melakukan akumulasi. Dalam proyeksinya, area 4.179 menjadi support penting yang patut diperhatikan pada pekan depan. Apabila harga bergerak turun menuju level tersebut dan mampu membentuk swing low, maka kondisi itu dapat menjadi sinyal bahwa tekanan jual mulai mereda dan buyer kembali mengambil alih kendali pasar. Menurut Dupoin Futures, terbentuknya swing low di sekitar support akan menjadi konfirmasi tambahan bahwa tren bullish masih valid. Oleh karena itu, koreksi yang terjadi justru dipandang sebagai peluang untuk memperoleh harga beli yang lebih kompetitif dibandingkan melakukan pembelian ketika harga sedang berada di area resistance. Selama harga mampu bertahan di atas area support tersebut, Dupoin Futures menilai arah pergerakan emas (XAUUSD) masih cenderung positif. Target kenaikan berikutnya diproyeksikan berada di kisaran 4.331 sebagai resistance utama. Jika momentum beli kembali meningkat dan harga berhasil menembus level tersebut dengan dukungan volume transaksi yang kuat, maka peluang penguatan diperkirakan berlanjut menuju 4.382, yang menjadi target resistance selanjutnya dalam skenario bullish. Dupoin Futures juga mengingatkan bahwa investor sebaiknya tidak hanya berfokus pada fluktuasi harga harian. Dalam kondisi tren naik yang masih terjaga, koreksi jangka pendek sering kali menjadi bagian dari proses pembentukan tren yang lebih sehat. Selama struktur harga masih membentuk pola kenaikan dan tidak menembus area support penting, prospek bullish dinilai tetap lebih dominan dibandingkan potensi pembalikan arah. Selain faktor teknikal, prospek harga emas (XAUUSD) pada pekan depan juga akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen fundamental yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar. Salah satu perhatian utama investor adalah rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) Amerika Serikat, yang menjadi indikator penting untuk mengukur kondisi pasar tenaga kerja sekaligus memberikan gambaran mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Menurut analisis Dupoin Futures, menjelang pengumuman data NFP, permintaan terhadap aset safe haven seperti emas berpotensi meningkat karena investor cenderung mengambil posisi yang lebih defensif di tengah ketidakpastian pasar. Kondisi tersebut dapat memberikan dukungan tambahan bagi harga emas (XAUUSD), terutama apabila pelaku pasar memilih mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Sentimen positif lainnya datang dari penurunan harga minyak dunia yang dinilai mampu mengurangi tekanan inflasi. Bersamaan dengan itu, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury Yield) juga menunjukkan kecenderungan melemah. Menurut Dupoin Futures, kombinasi kedua faktor tersebut dapat meningkatkan daya tarik emas karena menurunkan keuntungan relatif dari aset berbasis bunga dan membuka peluang bagi investor untuk kembali meningkatkan kepemilikan logam mulia. Pergerakan harga emas (XAUUSD) selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh hasil rilis data NFP. Dupoin Futures menilai bahwa apabila data ketenagakerjaan Amerika Serikat dirilis lebih rendah dari ekspektasi pasar, peluang The Fed untuk memangkas suku bunga akan semakin besar. Skenario tersebut berpotensi menekan penguatan dolar AS sekaligus memberikan dorongan baru bagi harga emas untuk melanjutkan reli menuju target resistance yang telah diproyeksikan. Di sisi lain, apabila data NFP menunjukkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan, pasar kemungkinan akan kembali memperkirakan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut dapat memperkuat dolar AS dan membatasi ruang kenaikan emas (XAUUSD) dalam jangka pendek. Meski demikian, selama harga masih bertahan di atas area support penting dan belum terjadi perubahan struktur tren, Dupoin Futures menilai bahwa potensi koreksi tetap bersifat sementara. Secara keseluruhan, Dupoin Futures memproyeksikan bahwa prospek harga emas (XAUUSD) pada pekan depan masih berada dalam jalur bullish. Koreksi menuju area 4.179 dipandang sebagai bagian dari pergerakan yang sehat dan berpotensi menjadi momentum akumulasi apabila muncul konfirmasi swing low. Dengan dukungan meningkatnya permintaan aset safe haven, pelemahan US Treasury Yield, serta potensi perubahan ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve setelah rilis data Nonfarm Payrolls, Dupoin Futures menilai peluang emas (XAUUSD) untuk melanjutkan penguatan menuju area 4.331 hingga 4.382 masih terbuka lebar selama sentimen pasar tetap mendukung.